139 Remaja di Sulut Tertangkap Bawa Sajam pada 2017, Ada yang Membunuh hingga Memerkosa

Butuh penanganan serius! Sebanyak 139 remaja di Sulawesi Utara tertangkap membawa senjata tajam dan terlihat kasus penikaman.

139 Remaja di Sulut Tertangkap Bawa Sajam pada 2017, Ada yang Membunuh hingga Memerkosa
Dok.TRIBUN MANADO
Ilustrasi anak panah wayer 

Ginting mengaku terus menggiatkan operasi sajam sembari itu memberikan penyuluhan kepada generasi muda.

Kasus sajam di Kabupaten Kepulauan Sangihe didominasi orang dewasa. Kurun setahun terakhir, tercatat ada 14 kasus sajam.

Dari kasus tersebut tidak ada yang melibatkan anak di bawah umur.

"Dari jumlah tersebut pembinaan empat kasus, selanjutnya dua sidik, dan delapan kasus ke jaksa," ungkap

Kapolres Sangihe AKBP I Dewa Made Adnyana melalui Kasat Raskrim IPTU Denny Tampenawas.

Lanjut dia, peristiwa paling menonjol ada pada Agustus tahun lalu, yakni empat kasus sajam.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemprov Sulut Mieke Pangkong mengungkapkan, remaja berusia di bawah 18 tahun sesuai UU masih dianggap sebagai anak.

Kata dia, harus ada terobosan dari semua pemangku kepentingan untuk mengatasi persoalan ini.

Usia remaja termasuk usia rentan. Salah satu solusi adalah mengalihkan aktivitas dan kreativitas mereka ke hal yang positif.

"Anak anak ini harus diberi ruang dan ada terobosan dari pemerintah untuk membentuk forum anak di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota," kata dia.

Forum anak ini kalau bisa sampai ke level bawah di desa/kelurahan.

"Anak bisa memanfaatkan waktu di forum itu, bisa mengenali pribadi masing masing selain itu bisa berekspresi apa sih yang bisa dilakukan," ujarnya.

Buat program dalam rangka memperbaiki jati diri kemudian.

"Hal terpendam bisa kemukakan di forum ini. Barang kali punya masalah, lampiaskan di forum itu. Dimanfaatkan dengan baik. Artinya memikirkan untuk membawa sajam bisa diminimalisir," ungkapnya.

Untuk memberi ruang memang membutuhkan kerja pemerintah.

Sebenarnya di masyarakat sudah ada pembinaan. Ada Komisi Remaja GMIM dan Remaja Masjid. Setiap agama punya fokus pelayanan terhadap anak. Tapi ini belum cukup untuk menjangkau semua anak.
Agar efektif bisa menjangkau, maka desa atau kelurahan harus ikut berperan. Ia mencontohkan di desa saat ini ada dana desa, sebagian besar memang terkuras untuk infrasturktur, tapi harusnya ada pos untuk pemberdayaan. Termasuk pemberdayaan anak.

"Tinggal bagaimana menyusun program pemberdayaan yang positif. Ketika punya program, anak juga ikut terlibat pembangunan, didengar pemikiran pemikiran mereka, maka akan sangat efektif membawa anak ke hal yang positif," ujarnya.

Contoh sederhana, menyalurkan bakat dan minat anak ke olahraga.

Pemerintah bisa mengarahkan membangun fasilitas olahraga. Anak anak kemudian aktif ikut dalam kompetisi, maka membangun jiwa sportifitas.

Kadang orang dewasa fokus pada urusan sendiri, lupa dengan anak. Dunia orang dewasa dan anak berbeda.

"Orang dewasa suka, belum tentu disukai remaja," ujarnya.

Usia remaja memang rentan, usia dimana masih mencari jati diri. Mereka adalah masa depan generasi penerus bangsa yang akan menggantikan tempat orang dewasa kelak.

" Masa depan bangsa terletak di pundak mereka. Di samping keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama harus bersinergi. Kalau tidak agak susah. Dari forum anak boleh bisa akses ide ide," jelas Pangkong.

DP3A Sulut memang tak bisa mengandalkan dana untuk mengatasi semua persoalan. Yang dibutuhkan sinergitas.

Satu di antara program pemerintah yakni kota/kabupaten layak anak. Tentu sudah termasuk anak anak jauh dari tindak kekerasan, seperti membawa sajam.

Ia mencontohkan, anak bisa digodok bakat dan minat, jika di olahraga bisa fasilitasi dengan dinas olahraga, berbakat di bidang sains dengan dinas pendidikan. Bahkan anak berada di lembaga pemasyarakatan anak tetap berhak mendapat pendidikan. "Pemerintah mengatur. Tidak bisa jalan sendiri mesti bersinergi," kata dia.

Intens berkomunikasi

Psikolog Elis Ratnawati menambahkan, harus dilakukan pembinaan sejak dini terhadap anak agar ketika remaja tak seperti senior mereka.

Ratnawati mengatakan, perilaku remaja seperti itu, karena mereka masih mencari jati diri.

Ada kecenderungan menyimpang akibat terpengaruh lingkungan, kurangnya perhatian orangtua dan berbagai sumber informasi yang saat ini mudah didapat dari smartphone.

Ketika terjadi perselisihan di kehidupan nyata dan untuk memeroleh pengakuan, mereka melakukan tindakan menggunakan sajam.

Harus mendidik anak mulai dari pendidikan agama dan moral. Sehingga bisa mengetahui jika melakukan tindakan negatif dalam dirinya sudah ada filter terlebih dahulu.

Kata dia, orangtua harus terus membangun komunikasi dengan anak. Sehingga kasih sayang dari orangtua dapat terus dirasakan anaknya hingga remaja.

Kalau tidak, anak akan mencari pengakuan di luar rumah. Jika demikian seringkali perilaku negatif menjadi pilihannya.

Untuk teknologi penggunaannya juga perlu diatur. Seperti smartphone, harus diatur penggunaannya oleh anak anak. Jangan sampai dilepas begitu saja, sebab hal tersebut bisa membuat anak anak mencari informasi yang sebenarnya belum menjadi bahan konsumsi.

Terlebih jika dibiarkan anak anak tersebut menjadi anti sosial. Padahal dengan berintersksi sosial bisa menimbulkan sikap persahabatan dengan teman temannya.

Begitu juga di sekolah, pendidikan budi pekerti harus terus dilakukan agar mereka bisa mengetahui norma di masyarakat. Dengan demikian diharapkan prilaku negatif dari remaja bisa dihindari. (nie/oly/art/ryo/erv)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Aldi
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved