Menilik Pemberhentian Terakhir Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol merupakan satu pejuang yang berperan besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Menilik Pemberhentian Terakhir Tuanku Imam Bonjol
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAW
Makam Imam Bonjol 

Laporan Wartawan Tribun Manado Nielton Durado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Tuanku Imam Bonjol merupakan satu pejuang yang berperan besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Ulama besar dari Minangkabau itu menghembuskan napas terakhirnya pada 6 November 1864, di sebuah desa kecil bernama Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

"Tuanku Imam Bonjol tidak mau menyerah pada Belanda. Dia rela diasingkan, daripada harus berhianat pada bangsanya. Hingga akhirnya dia wafat di Lotta ini," tutur Abdul Mutalib, Sabtu (20/1).

Untuk sampai ke makan Tuanku Imam Bonjol, perjalanan yang ditempuh dari kota Manado berkisar selama 30 menit.

Makamnya kini dijaga oleh keturunan pengawal setia Imam Bonjol bernama Apolos Minggu. Abdul Mutalib adalah generasi kelima Apolos Minggu.

"Ibu saya Ainun Minggu (80) adalah keturunan keempat dari Apolos Minggu. Apolos ketika itu menikahi gadis Minahasa bernama Mency Parengkuan. Dari situ kemudian lahirlah keturunan-keturunan berikutnya," ujar Abdul.

Mency yang bernama lahir Wilhelmina Parengkuan adalah gadis cantik putri Mayoor Kakaskasen di Lota, Paul Frederik Parengkuan.

Mendengar informasi putrinya bakal diculik para pekerja tambang, Paul memilih untuk menikahkan Menci dengan Apolos Minggu.

"Menci masuk Islam dan bernama Yunansi, yang lantas menurunkan generasi hingga sekarang ini, sudah tujuh generasi," cerita Abdul.

Halaman
12
Penulis: Nielton Durado
Editor: Rine Araro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved