Awalnya untuk Gagah-gagahan, Kini Steward Makin Cinta 'Kabasaran'

Mulanya Steward (16), warga Langowan ikut tarian Kabasaran untuk gagah - gagahan. Ia mengikuti sanggar Kabasaran di desanya.

Awalnya untuk Gagah-gagahan, Kini Steward Makin Cinta 'Kabasaran'
TRIBUN MANADO/ANDREAS RUAUW
ILSUTRASI 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mulanya Steward (16), warga Langowan ikut tarian Kabasaran untuk gagah - gagahan.
Ia mengikuti sanggar Kabasaran di desanya.

Namun lama - kelamaan, motivasinya berubah, dari sekedar gagah - gagahan menjadi kecintaan pada budaya Minahasa.

"Dulu hanya ikut gagah - gagahan saja, mau belajar ilmu kabal, tapi lama kelamaan saya sadari ada sesuatu di balik itu semua, yakni nilai budaya yang luhur dari para leluhur," kata dia.

Dampak cinta budaya tersebut, ia mulai suka mendengar lagu musik bambu dan kolintang, dua hal yang semula dibencinya. Dia pun mulai belajar sejarah Minahasa.

"Kalau dulu buka internet hanya untuk lihat film atau musik, kini saya baca budaya Minahasa di Internet," kata dia.

Dia mengaku terpukau kala membaca sejarah perang Tondano dimana orang Minahasa berhasil mengalahkan Belanda dalam sejumlah pertempuran.

Dia juga tertarik dengan kisah warga Palamba yang bertempur melawan perompak dari Maluku, yang teknik pertempurannya konon merupakan awal dari terbentuknya tari Kabasaran.

"Jiwa Minahasa itu ada di Kabasaran," kata dia.

Dikatakan Steward, menjadi pecinta budaya bukan berarti harus tampil nyentrik atau bersikap aneh.

Steward mengaku tetap mengikuti mode, termasuk gaya rambutnya yang dipotong di Barbershop.

Halaman
12
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Aldi
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved