Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Barata Bidik Kontrak di 2018, Nilainya Begini

PT Barata Indonesia (Persero) mengejar kenaikan proyek dan juga pendapatan di tahun ini. Hal ini didasari dengan adanya kerja sama.

Editor: Lodie_Tombeg
TOTOK WIJAYANTO
Pengerjaan proyek pembangunan permukiman, perkantoran, dan kawasan niaga, di pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta, Sabtu (12/12/2015). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Barata Indonesia (Persero) mengejar kenaikan proyek dan juga pendapatan di tahun ini. Hal ini didasari dengan adanya kerja sama yang sudah digaet dari tahun lalu serta proyek baru yang akan dikejar.

Direktur Utama PT Barata Indonesia, Silmy Karim mengatakan, tahun 2017 lalu, Barata Indonesia membukukan kinerja yang baik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2017 lalu, perolehan kontrak yang dicapai perusahaan ini sebesar Rp 3,68 triliun.

Bila ditelisik lebih lanjut perolehan kontrak murni 2017 sebesar Rp 3,2 triliun atau naik dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 722 miliar. Sementara sebesar Rp 400 miliar merupakan carry over dari 2016.

Sementara penjualan 2017 berada di angka Rp 1,1 triliun atau naik 53% dibanding realisasi pencapaian 2016. Perusahaan pelat merah ini juga membukukan laba bersih senilai Rp 44 miliar atau naik 120% dari pencapaian 2016. "Perolehan kontrak 2018 kami usahakan di atas Rp 4 triliun dan penjualan akan di atas Rp 2 triliun," jelas Silmy kepada Kontan.co.id, Rabu (3/1).

Menurutnya sumber utama penjualan berasal dari sektor industri komponen, pembangkit listrik, pabrik gula, port cranes, minyak dan gas. Industri komponen bersumber dari komponen pembangkit, kereta api dan juga sisanya ekspor ke Amerika Serikat, Rusia dan lainnya.

Dari sektor pembangkit listrik proyek bersumber dari PLN, Indonesia Power PJB dan juga Siemens. Sedangkan dari pabrik gula berasal dari pabrik baru PTPN 9 dan PTPN 11 serta sisanya swasta.

Barata sudah mengantongi proyek engineering serta konstruksi minyak dan gas dari Pertamina sebagian di hilir seperti distribusi BBM dan sebagian hulu.

Selain itu dari proyek port cranes sudah ada kerja sama resmi dengan sesama BUMN yakni PT Pelabuhan Indonesia 3 atau Pelindo 3. "Pelindo 2 dan lainnya akan menyusul. Kami juga mendapat proyek pelabuhan Patimban," jelasnya.

Silmy mengaku tahun ini Barata juga akan mencari tambahan modal dari obligasi. Nilai obligasi yang diincar sekitar Rp 500 miliar. "Baru di tahun 2019 akan initial public offering (IPO)," pungkasnya. *

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved