Ini Dia Perbedaan Perayaan Natal Zaman Dulu dan Sekarang, Menurut Dosen UKIT
Pdt Emeritus Jedida Tjandra Santosa mengatakan seharusnya pohon natal adalah pohon cemara.
Penulis: | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pdt Emeritus Jedida Tjandra Santosa mengatakan seharusnya pohon natal adalah pohon cemara.
"Jaman dahulu memakai pohon cemara dan hiasan buah cemara, sekarang jaman modern sudah banyak yang terjual hiasan natal dan ada yang pakai pohon natal terbuat dari besi," katanya, pada (20/12/2017)
Dosen UKIT ini mengatakan, dahulu natal dirayakan dengan suasana sederhana.
"Dulu saya ingat hanya ada bendi belum ada angkot dan jalan belum beraspal, sekarang jemaat semua ketemu berjalan bersama ke gereja untuk merayakan natal," katanya.
Katanya, didalam kesederhanaan dan kekurangan dulunya masih susah tetapi ada sukacita dan pengharapan
"Sekarang kelihatan kesibukan merayakan dengan cara kemeriahan dan pesta. Kalau buat saya hati lebih penting merasa damai meskipun didalam kesederhanaan ada sukacita," ungkapnya.
"Dulu dibuat masak bersama keluarga sekarang tinggal memesan cathering kelihatannya bertanding merayakan natal, ekonomi sekarang sudah lebih baik tetapi orang kelihatan bidang spiritual dan moral. Bagaimana supaya jangan kita bertanding dengan tetangga memutar sound sistem," tambahnya
Katanya, Natal bukan untuk berpesta melainkan kebersamaan natal itu bersama keluarga.
"Natal sebetulnya adalah peristiwa keluarga, kita mengingat pada keluarga untuk berkumpul beribadah bersama memaknai Yesus datang kedunia," katanya
Natal merupakan peristiwa keluarga dimana kelahiran anak di tengah keluarga, natal sebaiknya dilakukan di rumah-rumah bersama keluarga.
"Jemaat terdiri dari keluarga yaitu yang dikatakan keluarga Allah. Saya lebih cenderung ke situ, bukan sekadar dari pelayanan. Kita belajar peristiwa natal yang sederhana," jelasnya.
Kalau sekarang ia melihat hanya sekadar pesta.
"Kembalilah kepada kesederhanaan dan kebersamaan sebagai satu keluarga Allah. Makna natal untuk gereja Yesus datang bukan sekadar selamatkan kita. Banyak simbol natal yang dipakai tidak punya makna, karena yang saya lihat seperti kota Tomohon ada yang pakai pohon dengan besi, bukan pohon cemara. Tidak ada kesan pohon cemara, karena pohon cemara ada maknanya, kalau ubah berilah makna baru," kata dia.
Natal mengingat sesama kasih karunia, sekarang musimnya orang bermurah hati membawa kado, seharusnya ini disatu tahun satu kali harus maknai benar-benar.
"Kalau merayakan harus memberi makna sebetulnya, intinya kesederhanaan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pdt-emeritus-jedida-tjandra-santosa_20171220_224910.jpg)