Terkait Dampak Senjata Nuklir, Ini Peringatan Pemenang Nobel Perdamaian

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2017 memperingatkan negara-negara yang memiliki senjata nuklir untuk menghilangkan "instrumen kegilaan" tersebut

AFP/Odd Andersen
Berit Reiss-Andersen (kiri), Ketua Komite Nobel Norwegia, menyerahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2017 kepada Beatrice Fihn (kanan), pemimpin ICAN, dan korban bom nuklir Hiroshima Setsuko Thurlow (tengah) pada acara penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian 2017 di balai kota di Oslo, Norwegia, Minggu (10/11/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2017 memperingatkan negara-negara yang memiliki senjata nuklir untuk menghilangkan "instrumen kegilaan" tersebut atau menyebabkan kehancuran bersama.

Dilansir dari CNN, Minggu (10/11/2017), peringatan tersebut terlontar pada acara penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini di Oslo, Norwegia, yang dimenangkan oleh Kampanye Internasional untuk Penghapusan Senjata Nuklir (ICAN).

"Kalian masing-masing merupakan bagian integral dari sistem kekerasan yang mengancam manusia," kata Setsuko Thurlow, seorang penyintas bom Hiroshima dan juru kampanye ICAN.

Thurlow meminta negara-negara yang memiliki senjata nuklir untuk segera melenyapkannya.

Komite Nobel Norwegia memilih kelompok tersebut sebagai pemenang hadiah perdamaian tahun ini atas perannya sebagai pendorong upaya kesepakatan PBB mengenai larangan penggunaan senjata nuklir.

Perjanjian tersebut disetujui pada 7 Juli 2017 dengan dukungan daari 122 negara. Perjanjian tersebut melarang kegiatan nuklir, termasuk melakukan pengembangan, pengujian, produksi, pembuatan, perolehan, kepemilikan atau penimbunan senjata nuklir.

Dia juga menceritakan kisahnya sebagai anak sekolah berusia 13 tahun pada 1945 yang harus menyaksikan teman sekelas yang kehilangan anggota tubuhnya, setelah Amerika Serikat menjatuhkan sebuah bom atom di Hiroshima.

Thurlow selamat, namun sebagian besar teman sekelasnya tidak demikian. Keponakannya yang berusia 4 tahun terbunuh dalam peristiwa bom tersebut.

"Dia terus meminta air dengan suara samar sampai kematian melepaskannya dari penderitaan," kata Thurlow.

Dia mengatakan kisah tragis keponakannya mengingatkannya pada semua anak di dunia sekarang ini, yang hidup di bawah ancaman senjata nuklir.

"Kita tidak boleh bersikap toleran terhadap kegilaan ini (nuklir)," katanya.

AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan China, merupakan lima nefara permanen dalam Dewan Keamanan PBB, yang seluruhnya memiliki senjata nuklir, dan tidak berpartisipasi dalam negoisasi itu.

Korea Utara, yang telah meluncurkan enam kali uji coba senjata mematikan tersebut, juga tidak ikut dalam perjanjian.

Editor: Aldi Ponge
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved