Kisah Atlet Berprestasi Asal Tomohon yang Harus Bertanding Gunakan Dana Pribadi
"Tidak ada dana dari pemerintah pusat maupun Kota dan Provinsi, semua saya pakai biaya pribadi,"
Penulis: | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Frans Polii Manoppo, Warga Kakaskasen Satu, Kota Tomohon telah menjadi atlet sejak 1983.
Tampak puluhan piagam dipajang di dinding rumahnya. Tak hanya itu, tampak puluhan tropi tersusun rapi di dalam satu lemari.
Frans mengatakan saat SMP telah mnejadi atlet tolak peluru, atletpancaroba sudah termasuk atlet lempar cakram, lompat jauh, lompat tinggi dan lari 100 meter.
"Prestasi terakhir saya ikut pada 7th Indonesia Master Open Athletics Championship 2017 kejuaraan nasional atletik master Indonesia VI berlangsung di Bandung 5-6 Agustus, medali Emas tolak peluru dan medali emas lontar martil," kata dia.
Ia pun mengatakan, dia bertanding ke luar negeri Malaysia mengikuti lomba lempar lembing, cakram dan lontar martil dan lempar mending pada 2010 silam.
"Saya salah satu atlet Indonesia yang ikut 4 nomor. Tidak ada dana dari pemerintah pusat maupun Kota dan Provinsi, semua saya pakai biaya pribadi," katanya.
Dia mengatakan, mengikuti lomba di Bandung pada 2017 juga menggunakan dana pribadi. Dia menyayangkan pihak KONI provinsi yang tidak memberikan ganti rugi saat bertanding di Bandung.
"Membawa nama baik Indonesia dan Sulut serta Kota, gunakan uang pribadi berupa melalui proposal dan donatur," kata dia.
Kepala lingkungan 6 Kelurahan Kakaskasen I sehari-hari berprofesi sebagai seorang tukang ojek.
"Kesibukan sekarang adalah ojek di pangkalan Nelce Paslaten, keluar ojek pukul 08.00 Wita Sampai malam. Biasa sehari ojek dapat Rp 200 ribu lebih," ujarnya.
Dia mengatakan Presiden Jokowi sangan mengapresiasi prestasi atlet. Namun di Sulawesi Utara justru sebaliknya.
Dia mengenang masa jaya olahraga Sulut saat kepemimpinan EE Mangindaan dan Jimmy Rimba Rogi. Prestasi atlet kala itu cemerlang.
"Makanya Mangindaan jadi kebanggaan sulut karena kepedulian kepada Sulut terlebih atlet Sulut. Mudah-mudahan setelah dilaksanakan porprov olahraga Sulut akan lebih maju dan berkembang asal porprov dilaksanakan rutin dua tahun sekali," ujarnya.
Dia menilai olahraga Kota Tomohon mulai mengalami kemajuan khususnya di bidang atletik.
"Yang menarik dalam lomba adalah hadiah yang menjadi daya tarik untuk diikuti," tambahnya.
Dia berharap atlet muda makin banyak latihan dan tentunya mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat agar bisa berprestasi tingkat daerah hingga ke tingkat nasional.
"Olahraga itu tentunya sangat baik untuk kesehatan dan juga hobi untuk berprestasi," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/frans-polii-manoppo_20171127_163407.jpg)