Meski Sudah Dilaporkan, Pak Sipah Tetap Nekat Garap Lahan Garam

Selain itu kata Pak Sipah, dari lima kali ia dilaporkan ke Polres, empat diantaranya dirinya ditanyatakan tidak bersalah.

Meski Sudah Dilaporkan, Pak Sipah Tetap Nekat Garap Lahan Garam
net
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Entah sudah yang keberapa kali  Pak Sipah (70), warga Dusun Trokem, Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, dilaporkan ke Polres Pamekasan, dengan tuduhan penyerobotan tanah lahan garam, di desanya.

Walau sudah dilaporkan kembali ke Polres Pamekasan, Kamis (23/11/2017) dengan tudingan sama, menyerobot lahan tambak garam, namun Pak Sipah, bersama 40 anggotanya tetap nekat di musim garam tahun depan akan menggarap tambak garam, seluas 110,2 hektare.

“Apapun yang terjadi nanti, kami dan teman-teman tetap komitmen untuk menggarap lahan tambak garam itu. Karena kami memiliki alasan kuat dan tidak melanggar hukum. Jika ada risiko yang harus kami hadapi nanti, kami sudah siap,” kata Pak Sipah, kepada Tribunjatim.com, Kamis (23/11/2017).

Menurut Pak Sipah, dirinya bersama empat angotanya sudah dimintai keterangan di Polres Pamekasan, sebagai terlapor atas laporan dari salah seorang pemegang sertifikat lahan tambak garam, H Syafii, warga Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Didampingi H Abdul Gafur dan K Junaidi, yang selama ini mendampingi Pak Sipah, pihaknya akan tetap menggarap lahan tambak garam itu, karena adanya perjanjian kerjasama pengelola lahan garam dengan Perhutani Madura pada 2001 lalu, untuk menggarap lahan garam dengan sistem empang parid. Yakni, tambak garam yang di sela-sela itu ditanami pohon mangrove.

Pak Sipah menjelaskan,, kerjasama itu, diperbarui setiap lima tahun sekali dan terakhir diperbarui pada 2014 lalu, sehingga ia masih punya hak untuk menggarap lahan tambak garam itu hingga 2019 mendatang.

Selain itu kata Pak Sipah, dari lima kali ia dilaporkan ke Polres, empat diantaranya dirinya ditanyatakan tidak bersalah.

Pihak Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan, menyatakan walau dirinya memakai tanah tanpa izin, tetapi perbuatan itu bukan tindakan pidana. Sehingga PN Pamekasan memutus bebas.

“Pada 2014 lalu, kami pernah dilaporkan ke Polres hingga kasus ini sampai di PN. Waktu itu kami dihukum percobaan saja, tidak ditahan. Kemudian pada 2015 dan 2016, kami kembali dilaporkan baik pidana maupun perdata. Tapi baik keputusan PN Pamekasan maupun keputusan Pengadilan Tinggi, kami kami tidak bersalah dan kami diputus bebas, sehingga wajar tetap menggarap lahan garam,” kata Pak Sipah

Dikakatakan, untuk sementara, karena saat ini musim garam sudah selesai, ia istirahat dulu, namun untuk musim garam 2018 mendatang, ia bersama anggota lainnya tetap akan menggarap lahan garam yang kini disengketakan itu.

Halaman
12
Editor: Try Sutrisno
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved