Pertumbuhan Kredit Melemah, Faktor Ini Penyebabnya

Bagaimana pergerakan sektor kredit di tahun depan? Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan kredit.

Pertumbuhan Kredit Melemah, Faktor Ini Penyebabnya
NET
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bagaimana pergerakan sektor kredit di tahun depan? Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, BI juga menetapkan Countercyclical Buffer (CCB) sebesar 0%.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan kredit di September 2017 sebesar 7,86%, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit di bulan Juni yang sebesar 7,75%. Namun demikian, pertumbuhan kredit 1 Januari hingga 30 September 2017 baru mencapai 3,8%.

"Maka itu, kami melihat sampai akhir tahun bank akan berusaha mencapai business plan yang mereka sudah sampaikan. Namun mungkin realisasinya akan ada di kisaran bawah dari target yang BI sampaikan yaitu 8%-10%. Jadi BI memperkirakan ada di sekitar 8%," kata Agus, Kamis (16/11).

Rendahnya pertumbuhan kredit tersebut disebabkan oleh rendahnya permintaan. Sebab, korporasi baru menyelesaikan proses konsolidasi yang dilakukan dengan mengendalikan biaya-biaya.

"Maka mereka mau meyakini neraca mereka sudah sehat, rugi laba sudah lebih sehat dan sekarang ini mereka belum ajukan permintaan. Masih kaji perkembangan ekonomi dunia," tambah Agus.

Dari sisi perbankan juga demikian. Agus bilang, mereka masih berkonsolidasi untuk menjaga agar kualitas kredit membaik dan masih mewaspadai loan average.

Sementara itu, untuk mendorong penyaluran kredit, BI mempertahankan Countercyclical Buffer (CCB) tetap yaitu 0%. "BI melihat dan memutuskan dalam RDG Countercyclical Capital Buffer tetap 0% karena kredit kami lihat belum memadai. Ini kami lihat sebagai bentuk bagaimana supaya intermediasi tetap lebih baik," tambahnya.

Deputi Gubernur BI Erwin Riyanto menjelaskan, CCB merupakan instrumen makroprudensial yang digunakan BI untuk mengendalikan penyaluran kredit. Jika pertumbuhan kredit terlalu tinggi, maka persentase permodalan harus ditambah dengan menaikkan besaran CCB.

Berbeda dengan kondisi saat ini, yaitu pertumbuhan kredit masih rendah sehingga besarnya dipertahankan untuk mendorong kredit. "Artinya bank tidak perlu tambahkan dari sisi permodalannya," kata Erwin. *

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved