Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cerita Bocah 9 Tahun asal Kotamobagu jadi Pebalap Motor

Bunyi knalpot bising terdengar di telinga hingga kepulan asap bercampur bau oli motor menusuk hidup dan perih di mata.

Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Fahri Fernando Detu 

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Panas terik kemudian hujan sebentar melanda ruas jalan raya Kelurahan Motoboi Kecil yang dipadati ratusan warga untuk menyaksikan ajang balapan pada Jumat (3/11/2017)

Bunyi knalpot bising terdengar di telinga hingga kepulan asap bercampur bau oli motor menusuk hidup dan perih di mata.

Di tenda garis start panitia dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulut sibuk mengatur pelaksanaan balapan.

"Ini adalah even balap motor dan mobil yang mengambil tema Muda Charaka Hari Pahlawan Drag Race dan Drag Bike open tournament 2017 di jalan raya motoboi kecil Kotamobagu," kata Fitra Junaidi, Ketua panitia pelaksana Muda Charaka Harai Pahlawan Drag Race and Drag Bike kepada Tribun Manado.

Menariknya dari puluhan pembalap motor yang berlomba menjadi yang tercepat di 19 kelas diperlombakan, ada satu orang pembalap cilik berusia sembilan tahun, Fahri Fernando Detu alias Fernando.

Fernando turun di kelas standard show room 125 cc, bocah cilik ini menggunakan motor Yamaha Mio.

"Baru pertama ikut lomba balap motor di lintasan aspal," kata Fernando dengan nada polos.

Siswa kelas IV SDN Pobundayan ini mengaku suka mengikuti lomba balap motor dan direstui oleh kedua orang tuanya.

Darah balap motor ternyata sudah ada pada warga Perum Permai Kelurahan Pobundayan. Sang ayah, Rudy Detu merupakan mantan pembalap dan kali ini sebagai mekanik motor balap tanah.

"Ini karis balap pertama di lintasan aspal, sebelumnya sering latihan rutin tiga kali seminggu di sirkuit dadakan bekas kebun jagung dan sawah pakai motor trail," urainya.

Meski masih bocah, tidak ada rasa takut dalam dirinya kala memacu laju motor dilintasan balap yang berjarak 201 meter.

Rudy Datu, ayah Fernando mengaku darah membalap motor memang sudah ada pada putra buah pernikahannya dengan sang istri bernama Meis.

Sejak kecil, Fernando sudah dibawa ibunya menyaksikan aksi balap sang ayah dalam setiap pelaksanaan lomba.

Sebagai orang tua tentunya mendukung penuh hobi sang anak dengan melakukan pembagian waktu antara latihan balap, sekolah dan ibadah.

"Memang sekolah yang diutamankan, nanti latihan usai sekolah tak lupa juga untuk rajin beribadah, pengajian usai latihan dilakukan di mesjid," ujar Rudy.

Untuk waktu latihan balap yang dilakukan kepada Fernando oleh ayahnya, usai sekolah di kebun jagung yang sudah selesai digarap. "Tentunya dengan seizin pemiliknya, baru dipakai latihan," tukasnya.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved