"Kamar Pecah" di Singapura, Sarana Pelampiasan Kemarahan dan Stress

Di Singapura, mereka yang sangat stres bisa melampiaskannya di sebuah tempat bernama " Kamar Pecah (Fragment Room)."

ISTIMEWA
Petugas tengah memperagakan penggunaan Kamar Pecah di Singapura. Mereka yang jenuh dan marah dengan kehidupan bisa melampiaskannya di sini. Terdapat tongkat Baseball untuk memecahkan berbagai barang mulai dari botol kaca hingga televisi (19/10/2017) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menjalani kehidupan sehari-hari, entah itu bersekolah atau bekerja, pastinya membuat stres dan emosi memuncak.

Di Singapura, mereka yang sangat stres bisa melampiaskannya di sebuah tempat bernama " Kamar Pecah (Fragment Room)."

Dibuka enam bulan lalu di pusat kota, Fragment Room adalah ruangan berukuran 5x5 meter yang dilapisi dinding yang tebal. Di dalam kamar tersebut, disediakan tongkat pemukul dan berbagai macam barang pecah.

Barang-barang itu dihancurkan pengunjung, baik menggunakan tongkat atau tangan kosong, sebagai sarana pelampiasan kemarahan dan stres mereka.

Pendiri Kamar Pecah, Royce Tan berujar, hidup di negara yang pertumbuhan ekonominya maju membuat warganya hidup dalam tingkat stres yang tinggi.

"Dimanapun dan kapanpun, di sekolah, bekerja, atau menjalani percintaan, orang pasti stres," kata Tan, Rabu (01/11/2017).

Ada dua paket yang ditawarkan kepada pengunjung untuk "marah" selama 1,5 jam. Paling murah senilai 38 dollar Singapura, Rp 378.000, dengan jumlah barang yang bisa dihancurkan terbatas.

Adapun "Paket Penghancuran Total" dibanderol 350 dollar Singapura, sekitar Rp 3,4 juta, dimana pengunjung bisa menghancurkan apa saja yang bisa diraih.

Pengunjung bisa menghancurkan benda yang ada di dalam Kamar Pecah, atau membawa sendiri.
Printer biasanya menjadi "korban" favorit pengunjung. Seperti yang dilakukan beberapa mahasiswa yang memasuki ruangan tersebut.

Kylie Low menjelaskan, mereka ingin melampiaskan jenuh dan stres pasca-menjalani ujian. "Ketika kami di sekolah, kami selalu menggunakan ini (printer). Jadi, ketika bisa menghancurkannya, perasaanku ringan." ujar Low yang merupakan mahasiswa Fakultas Hukum.

Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved