Bikin Terenyuh, Leher Gadis Kecil Ini Membuatnya Dikucilkan
Gadis 9 tahun, Afhseen Qumbar kepalanya miring bahkan mencapai sudut 180 derajat. Kondisi itu membuatnya harus hidup sebagai orang terbuang.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Gadis 9 tahun, Afhseen Qumbar kepalanya miring bahkan mencapai sudut 180 derajat.
Kondisi itu membuatnya harus hidup sebagai pariah atau orang terbuang.
Hal itu karena banyak yang takut padanya.
Gadis tersebut berasal dari Mithi, Singh, pakistan.
Dikutip dari Daily Mail pada Senin (30/10/2017), gadis ini menderita kelainan otot yang tidak diketahui yang menyebabkannya tidak dapat menegakkan kepalanya.
Kondisi tersebut lantas membuat Afhsen tidak bisa berdiri dan berjalan dengan baik.
Dia juga membutuhkan bantuan untuk makan dan menggunakan toilet.
Anak-anak di sekitarnya pun takut padanya.
Apalagi orang dewasa percaya, kondisi tersebut diakibatkan karena dosa yang diperbuatnya.
Akhirnya dia tidak pergi ke sekolah, teman-temannya hanya enam saudara kandungnya.
Ayahnya, Allah Jurio (55) dan ibunya, Jameelan (50), mengungkapkan mereka telah berkonsultasi dengan beberapa dokter.
Namun, dokter tersebut tidak dapat memberikan perawatan dikarenakan kondisi yang dialami Afhseen adalah penyakit langka.
Selain itu, keluarga yang hidupnya dilanda kemiskinan itu hanya mengandalkan anak sulung mereka untuk membantu keuangan.
Sehingga mereka tak punya biaya untuk membawa anak perempuan mereka untuk mendapat perawatan khusus.
Jameelan mengatakan, dia sangat hancur melihat putrinya dalam kondisi seperti itu.
"Aku tidak bisa melihat dia menderita lagi. Tidak satu pun dokter di sini yang bisa mendiagnosisnya," ujarnya.
Petugas medis tersebut telah menyarankan Jameelan untuk membawa anaknya ke Jinnah Post Graduate Medical Center di Karachi.
Namun, mereka tak punya uang untuk membawa putrinya ke rumah sakit yang lebih besar untuk pengobatannya.
Jameelan menjelaskn, Afhseen mulanya lahir sebagai bayi normal pada umumnya, tetapi hidupnya berubah ketika usianya mencapai 8 bulan.
"Ketika usianya 8 bulan, dia jatuh ke tanah sambil bermain di luar rumah dan membuat lehernya sakit," ungkapnya.
Awalnya, mereka pun mengabaikan kondisi anak itu karena tak punya uang dan membawa anak mereka ke tabib setempat.
"Namun, kondisinya tak pernah membaik," tandasnya.
Seiring bertambahnya usia, masalah pun menjadi lebih rumit.
"Dia tidak bisa menggakkan kepanya sama sekali dan sering mengeluh sakit di lehernya," imbuhnya.
Kemudian anaknya it tidak bisa melakukan apapun dengan dirinya sendiri dan membutuhkan bantuan dalam segala hal.
"Dia hanya duduk di sudut dan kadang-kadang bermain dengan saudara kandungnya," tambahnya.
Baik, Jameelan dan Jurio berkerja di peretnakan keluarga mereka dan tidak memiliki pekerjaan sehari-hari.
Putra sulung mereka, Mohmad Yaqoob (25) bekerja di toko pribadi dan memiliki penghasilan yang pas-pasan.
Kondisi Afhsen ini membuatnya hidup sebagai seorang pariah atau terkucilkan.
"Orang mengatakan hal buruk tentang putri kamu. Mereka sering menertawakannya. Sungguh menyakitkan. Kami tidak bisa mentoleransi sikap dan diskriminasi orang," tuturnya.
Jurio pun menjaga anaknya tetap berada di rumah.
Meskipun dia ingin anaknya bisa belajar, tetapi kenyataan tidak ada yang akan menerimanya di sekolah.
Dokter pun percaya Afhsen menderita kelainan otot yang jarang terjadi atau anomali pada tulang belakang.
Namun, hanya menyarankan pemeriksaan menyeluruh bisa mengungkap penyebabnya.
Dr. Dilip Kumar yang mengelola klinik swasta di Mithi mengatakan ini adalah kasus yang paling langka.
"Kondisinya bisa disebabkan oleh anomali tulang belakang atau gangguan otot, tapi hanya bisa disimpulkan setelah diselidiki secara menyeluruh," ujarnya.
Namun, Mithi tidak memiliki fasilitas, untuk itu dia menyarankan kepada orang tua Afhseen membawanya ke Karachi di mana dia bisa menjalani operasi penyelamatan seumur hidup.
Jameelan dan Jurio pun putus asa dan telah meinta bantuan pemerintah Pakistan.
"Jika pemerintah datang untuk memberi pertolongan, putri kami bisa menjalani kehidupan normal. Aku masih memiliki begitu banyak harapan dan impian untuk Afhseen," terangnya.
Jurio pun ingin melihat putrinya itu pergi ke sekolah dan bisa bermain dengan anak-anak lain.
"Saya berharap bahwa keinginan saya akan terpenuhi satu hari," pungkasnya.
(Tribunnews/Vika Widiastuti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/afhseen-qumbar_20171030_194610.jpg)