Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Begini Alasan Bursa Efek Indonesia Suspensi 'Empat Saham Meroket'

Bursa Efek Indonesia (BEI) berkali-kali melakukan penghentian perdagangan sementara alias suspensi.

Editor: Lodie_Tombeg

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) berkali-kali melakukan penghentian perdagangan sementara alias suspensi untuk saham-saham yang baru melantai di bursa dalam kurun waktu dua pekan terakhir.

Penghentian itu dilakukan lantaran harga saham-saham terbaru di papan bursa tersebut melonjak sangat tinggi dalam kurun waktu beberapa hari saja.

Suspensi tersebut dilakukan BEI terhadap saham PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), dan saham PT Emdeki Utama Tbk (MDKI).

Keempat saham ini memperlihatkan pergerakan harga kumulatif yang tinggi sehingga otoritas bursa memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham in dalam rangka cooling down.

Saham KIOS contohnya, sempat mengalami kenaikan drastis dalam sepekan setelah pertama kali terdaftar sebagai emiten di bursa. Sejak listing di bursa tanggal 9 Oktober 2017 hingga tanggal 16 Oktober 2017, harga saham ini meningkat dari Rp 700 pada perdagangan pertama saham ini menjadi Rp 2.120 per saham. Itu artinya, saham ini mengalami lonjakan hingga 200,86% dalam waktu satu minggu yang mengakibatkan saham ini disuspensi oleh otoritas bursa pada 17 Oktober 2017 kemudian disuspensi lagi pada 20 Oktober 2017 lalu.

Hampir mirip, saham MTWI juga disuspensi lantaran mengalami kenaikan harga yang drastis. Saham ini melonjak 585% dalam kurun waktu dua pekan. Pada tanggal 20 Oktober 2017 pun saham ini mendapat sanksi gembok yang pertama untuk kemudian dibuka kembali pada perdagangan saham di hari berikutnya.

Tingginya pergerakan harga saham-saham ini dinilai Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada disebabkan oleh tingginya minat investor pada saham-saham baru ini.

"Karena saham-saham ini masih momentum initial public offering (IPO), banyak pelaku pasar yang memanfaatkan untuk ambil posisi," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (27/10).

Momen IPO ini membuat harga saham-saham tersebut masih murah sehingga banyak pelaku pasar, terutama para investor ritel, berlomba-lomba membeli saham ini dikarenakan harga sahamnya yang masih rendah.

Kenaikan harga saham-saham baru tersebut, menurut Reza, juga dipengaruhi oleh faktor penjamin pelaksana efek (underwriter). "Banyak pelaku pasar beranggapan bahwa jika underwriter IPO saham tersebut adalah sekuritas BUMN, harga saham itu kurang diurus sehingga tidak mampu memberikan gain yang sebanyak saham-saham yang IPO-nya dilakukan oleh sekuritas swasta," papar Reza.

Pasalnya, sekuritas swasta dianggap bisa lebih mengambil andil dalam saham tersebut sehingga membuat harga saham-saham baru itu bisa terus bergerak naik. Hal ini membuat para investor ritel yang cenderung berorientasi jangka pendek memburu gain yang bisa diperolehnya dari saham-saham tersebut.

Perhatian pada gain tersebut pun membuat mereka jadi tak terlalu tertarik pada fundamental perusahaan tersebut. Hal ini membuat saham anak usaha BUMN seperti PT GMF Aeroasia Tbk (GMFI) kurang diminati investor ritel walaupun memiliki kinerja cemerlang. Ditambah lagi, IPO saham ini pun dilakukan oleh empat sekuritas pelat merah sehingga membuat para trader kurang tertarik pada saham anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) ini. *

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved