Minsel - Minsel Darurat Obat, Begini Kata Kadis Dinkes
Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan mengeluhkan adanya kelangkaan obat-obatan.
Penulis: Maickel Karundeng | Editor: Siti Nurjanah
Laporan Wartawan Tribun Manado Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID - Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan mengeluhkan adanya kelangkaan obat-obatan.
"Banyak aspirasi masyarakat yang saya terima tentang stok obat di Minsel kurang," ucap Roby Sangkoy satu diantara anggota dewan Minsel kepada Tribun Manado Minggu (22/10).
Ia berkata rumah sakit dan puskesmas di Minsel bisa di bilang darurat obat.
Banyak masyarakat yang berobat khususnya peserta BPJS Kesehatan mengeluh karena obat-obatan yang diberikan diluar BPJS.
Kadis Kesehatan Minsel Ternie Paruntu saat di konfirmasi membenarkan adanya kelangkaan obat.
"Keadaan tersebut memang terjadi menurut versi dewan, karena faktor pengadaan terlambat pada sistem e-katalog," ujarnya.
Menurut Ternie, kenapa waktu belum ada e-katalog semua obat masuk, tapi setelah ada e-katalog semua obat tidak masuk.
"Sistem e-katalog patut di evaluasi kembali karena dampaknya di daerah yakni kurangnya obat," ungkapnya.
Dinkes tidak tahu obat-obatan apa saja yang masuk, makanya perlu ada langkah antisipasi yakni sistem e-katalog harus diberikan batas waktu.
Ia menambahkan, sistem e-katalog membuat Minsel kekurangan obat.
Obat tidak masuk bahkan menjelang akhir tahun belum masuk juga.
"Solusinya yang dilakukan ialah pengajuan obat secara manual selama tidak melanggar aturan," ungkap Kadis Dinkes Ternie Paruntu.
Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberikan jaminan kesehatan kepada 160 juta masyarakat Indonesia.
Salah satu komponen yang dijamin, yakni biaya pengobatan dan ketersediaan obat.
Obat yang dijamin BPJS selama ini, penyediaannya harus melalui e-katalog.
Pada praktiknya, obat-obatan yang ada di e-katalog sering kosong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ternie-paruntu_20171022_142540.jpg)