Begini Asiknya Mancing Mujair Rawa di Boroko
Saking minatnya terhadap mancing tempat-tempat yang diduga mempunyai ikan "disatroni" para pemancing.
Penulis: | Editor: Aldi Ponge
Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus
TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Mancing bagi sebagian orang merupakan hobi yang mengasyikkan.
Berbagai tempat bisa menjadi tempat memancing.
Ada yang pantai, ada yang di kolam ikan, dan ada pula di sungai.
Saking minatnya terhadap mancing tempat-tempat yang diduga mempunyai ikan "disatroni" para pemancing.
Salah satu tempat yang unik ada di Boroko. Tempat mancing bukanlah sebuah kolam ikan, bukan pula pantai atau sungai. Tempat itu malah mirip genangan air rawa, hampir tanpa jalan keluar air dan ditumbuhi ilalang air tak beraturan.
Pemancing harus berada pada posisi jongkok di tanah keras pinggiran "kolam" itu.
Mereka bisa menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ikan yang kata Fandi (40), warga Boroko, lebih banyak Ikan Mujair.
Pemancing harus lihai melempar umpan di tengah-tengah air yang agak gelap.
Fandi membenarkan bahwa "kubangan air" raksasa itu bekas rawa-rawa. Dulunya merupakan bagian hutan Bakau dekat sebuah sungai besar.
Adanya jalan dua jalur membuat ada bagian yang terpisah. Fandi hanya binggung menjawab dari mana bibit Mujair itu berasal.
Selain hampir tanpa jalan air, air itu bermula dari sebuah sungai yang sudah terpisah jalan. Mujair pun tergolong banyak.
"Bisa satu atau dua Mujair per hari. Ikannya lumayan besar," ujarnya, Kamis (13/10/2017).
Pemancing di hari Kamis itu katanya masih kurang banyak. Biasanya sekeliling "kolam" dipenuhi orang.
Amu (40-an), teman memancing Fandi mengatakan kegiatan memancing biasanya dilakukan dari pukul 15.00 sampai maghrib.
"Bahkan sampai malam hari dengan menggunakan lampu," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/lokasi-mancing-di-bolmut_20171013_190943.jpg)