Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bedah Buku Musa Jerman, Pastor Ohoitimur: Buku ini Menarik

Acara bedah buku Martin Luther, Musa Jerman, yang merupakan penulis Prof Dr A Eddy Kristiyanto OFM, berlangsung di Aula UKIT, Senin (2/10/2017)

Penulis: | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/FERDINAND RANTI
Acara bedah buku Martin Luther, Musa Jerman, yang merupakan penulis Prof Dr A Eddy Kristiyanto OFM, berlangsung di Aula UKIT, Senin (2/10/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Ferdinand Ranti

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Acara bedah buku Martin Luther, Musa Jerman, yang merupakan penulis Prof Dr A Eddy Kristiyanto OFM, berlangsung di Aula UKIT, Senin (2/10/2017).

Pembedah buku ini adalah Pdt Prof Dr Olaf H Schumann, Pdt Helena Johana Tandiapa MTeol, Pastor Prof Dr Yong Ohoitimur MSC, Pdt Dr Karolin Augustien Kaunang MTh.

Puluhan mahasiswa dan para dosen berkumpul di aula lantai dua, mendengarkan dan menyaksikan pembedahan buku ini.

Pastor Prof Dr Yong Ohoitimur MSC, mengatakan, pihaknya memberi empat catatan buku ini. Terbit tepat waktu menjelang dunia abad reformasi protestan kristen.

"Buku ini memenuhi keingintahuan mengenai Luther sebagai reformator. Sejarah gereja topik komprehensif. Bagaimana Luther diterima di dunia kontribusi pemikiran. Buku ini menarik karena ditulis iman katolik bersama mahasiswa-mahasiswi 5 abad lalu diguncang reformasi protestan," jelasnya.

Ohoitimur mengatakan buku tersebut berangkat pergumulan pertikaian mencuat situasi konflik keterputusan Luther dan Roma. Buku ini menuju radikal sikap Katolik Roma, dan Luther diakui sebagai guru bersama dan sangat bermanfaat bagi Katolik.

"Konflik yang diuraikan dalam buku diproses dipelajari, konflik bukan musibah dan menjadi berkat bagi gereja. Pertama saya melihat reformasi Luther tidak terbatas soal iman teologis dampak menjadi reformasi peradaban," katanya.

Alfian Rico, panitia dan moderator memimpin bedah buku mengatakan. Kegiatan ini dalam rangka dies natalis ke-55 fakultas Teologi Ukit YPTK GMIM.

"Supaya dan luar biasa perjuang luther lahir dari kampus, semrawutan pada waktu itu kampus tampil sebagai budaya tandingan terhadap budaya penindasan ketidak benaran ketidak adilan. 500 tahun setelah Luther menjadi budaya alternatif, situasi gereja protestan jadi lebih parah situasinya dari gereja katolik sebelum reformasi," kata dia.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved