Tribun Manado TV
(VIDEO) Ironis! Taraf Hidup Transmigran Jatim di Bolmut Sejak 2005 Tak Berubah
Kondisi transmigran di Pemukiman Goyo, Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, memprihatinkan.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
Laporan Wartawan Tribun Manado Warstef Abisada
TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Kondisi transmigran di Pemukiman Goyo, Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, memprihatinkan.
Sebab, selama 12 tahun mendiami lokasi transmigrasi sejak datang dari Probolinggo, Jawa Timur, pada tahun 2005 lalu, para transmigran tak mengalami kemajuan.
"Kondisi kami tak berkembang, masih sama saja seperti dulu saat kami datang ke sini. Lihat saja, jalannya masih tetap rusak," kata Hanafi, warga di pemukiman Goyo Dua, pada September 2017.
Hanafi kini menjadi kepala Dusun IV, Desa Ollot II.
Sebab, pemukiman yang mereka diami sejak datang dari Probolinggo menggunakan Kapal Lambelu selama sepekan melalui jalur laut, berada di Desa Ollot II.
Transmigran yang tinggal di pemukiman Goyo, tak hanya dari Jawa, tapi juga transmigran lokal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Pada tahap pertama 2005 ada 80 kepala keluarga, tahap kedua 2006 sebanyak 80 kepala keluarga, dan terakhir tahap ketiga pada 2007 sebanyak 40 kepala keluarga yang masuk.
Saat Tribun Manado berkunjung ke pemukiman Goyo, akses jalan rusak berat.
Meski sudah menggunakan motor trail, tapi nyaris jatuh karena jalan becek dan berbatu seperti sungai kering.
"Kemarin ada orang dari Dinas Pertanian yang jatuh, kasian. Apalagi orang Goyo, hari-hari jatuh gara-gara jalan rusak," keluh Hanafi.
Jalan menuju pemukiman Goyo dari Desa Paku jaraknya mencapai 12 Km.
Sebelum melalui jalan ke Goyo, warga harus menyeberang sungai Bolangitang dengan menggunakan rakit.
Dari 12 Km panjang jalan yang ada, hanya 2 Km yang telah di hot mix, sementara sisanya rusak.
Hanafi mengungkapkan, warga di pemukiman Goyo sulit untuk mengembangkan taraf hidup.
Sebab hasil pertanian dan perkebunan yang mereka miliki, habis untuk dikonsumsi setiap hari.
"Hasil panen di sini tak bisa dijual, sebab biayanya pasti habis untuk membayar ojek. Sekali jalan saja ojek dari sini Rp 35 ribu, kalau balik lagi totalnya Rp 70 ribu. Jadi, jika hasil panen seperti jagung dijual ke pasar, hasilnya habis untuk membayar ongkos ojek. Di sini hidupnya ibarat gali lubang tutup lubang," ungkap Hanafi.
Hi Solihin (50), warga pemukiman Goyo awalnya berpikir dengan menjadi transmigran, hidupnya bisa lebih sejahtera dibandingkan di daerah asalnya.
Tapi, setelah 12 tahun tinggal di daerah transmigran dan telah menjadi warga Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, hidupnya begitu-begitu saja.
"Saya pikir dengan menjadi transmigran, hidup saya dan keluarga akan menjadi sejahtera. Tapi, kenyataannya tidak, tetap seperti ini. Sudah 12 tahun hidup dalam ketidakpastian di sini," tegasnya.
Sebelum diberangkatkan dari Probolinggo, Hi Solihin ingat betul apa yang dijanjikan oleh pemerintah pusat.
Jika hidup di daerah transmigrasi, maka akan lebih sejahtera, sebab akan diberi rumah permanen, lahan untuk berusaha, dan tanah yang bersertifikat.
"Saat tiba saja kami heran melihat kenyataan yang ada, sebab toilet saja tidak punya septic tank-nya dan hingga sekarang rumah kami begitu-begitu saja, hanya terbuat dari papan. Lahan pun hingga sekarang tak punya sertifikat, tidak jelas semuanya. Takutnya jika seperti ini, anak cucu kami bisa diusir karena menempati lahan yang dinilai bukan hak milik kami," ujarnya.
Ia berharap, ada perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah untuk membangun daerah transmigrasi menjadi lebih baik.
Misalnya, akses jalan yang sudah dirintis di-hot mix semuanya, tak kesulitan dalam mengembangkan taraf hidupnya menjadi lebih baik.
"Jalan yang di-hot mix baru di area masuk menuju ke pemukiman Goyo, tapi di sini hanya dibiarkan rusak seperti ini," sesalnya.
Karena rusaknya jalan di pemukiman Goyo, anak-anak yang ingin ke sekolah saat hujan turun, sampai dipenuhi becek.
"Kasihan anak-anak di sini, jika hujan turun pasti mereka penuh becek saat kesekolah. Sebab, jalan yang mereka lalui rusak berat," katanya.
Hi Solihin berharap, ada perhatian dari pemerintah daerah dan pusat.
Sebab, seluruh warga yang tinggal di pemukiman Goyo, semuanya menjadi warga Bolaang Mongondow Utara.
"Warga di sini mendukung Kabupaten Bolaang Mongondow Utara untuk menjadi lebih maju. Jadi diharapkan pemerintah juga ikut membangun daerah yang kami tempati ini," tukasnya.
Simak selengkapnya dalam tayangan video di atas.