Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Umat Katolik Rayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional, ini Pesan Pastor Julius Salettia

Umat Katolik Indonesia merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional Minggu (3/9)

Tayang:
Penulis: | Editor: Siti Nurjanah
www.katolisitas.org
Kitab suci 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Umat Katolik Indonesia merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional Minggu (3/9), hari minggu khusus yang ditetapkan dalam sidang Majelis Waligereja Indonesia (MAWI, sekarang KWI) tahun 1977.

Di beberapa gereja, Kitab Suci berukuran besar diarak ke dalam gereja saat perarakan masuk dan minggu ini menandai semua kegiatan besar seperti pendalaman Kitab Suci di setiap wilayah rohani, stasi, paroki, biara, dan kelompok kategorial selama sebulan (Bulan Kitab Suci Nasional/BKSN).

Perarakan Kitab Suci diadakan di gereja-gereja Katolik di se-antero paroki Santa Ursula Watutumou. Pemimpin misa untuk hari minggu kitab suci nasional di stasi Santo Fransiskus Xaverius Maumbi ialah Pastor Julius Salettia.

Pastor Julius mengatakan tema dalam BKSN tahun ini ialah "Kabar Gembira di tengah Gaya Hidup Modern" dan kabar gembira itu tetap sama dulu dan sekarang.

Kabar itu juga telah disampaikan di Yerusalem, ibu kota Kerajaan Israel, tempat di mana ada Bait Allah.

"Tapi dosa banyak di sana dan kabar gembira disampaikan agar mereka berhenti membuat barang yang tidak benar, untuk membuat orang mencintai Sabda Allah Allah. Anak Manusia akhirnya menanggung banyak dosa mereka," katanya.

Orang-orang pintar di Yerusalem katanya tidak mau menerima kritik.

Orang-orang itu bisa jadi merasa pintar atau membuat dirinya pintar.

"Yesus harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Yesus sampai mengatakan agar masyarakat mengikuti ajaran mereka tapi bukan kelakuan mereka," katanya.

Dalam sejarah bangsa Israel katanya Tuhan sudah memberikan raja, hakim bahkan nabi untuk menyampaikan kabar yang sama.

Di situ juga ada nabi-nabi pertama seperti Amos, Yeresmia, Yehezkiel.

"Yeremia bahkan dimasukkan dalam sumur karena orang-orang tidak tahan apa yang ia katakan. Mereka tidak mengerti dan karena itu susah karena mau mengikuti rencana Tuhan," ujarnya.

Mengikuti kehendak Tuhan katanya sulit. Bahkan ia berkelakar karena orang bisa pusing-pusing dan mual karena itu.

"Dulu jalan becek dan mobil sulit tapi banyak umat tidak terlambat ke gereja dan sekarang jalan beraspal dengan banyak kendaraan tapi umat banyak terlambat. Jadi masalah bukan karena dunia moderen tapi masalahnya terletak di pikiran, hati dan perut," katanya.

Ia mencontohkan Kitab Suci sekarang bisa didownload tapi dulu orang bisa jadi lebih rajin membaca.

Begitu juga ketika teks lagu muda didapat tapi hanya koor yang kemudian menyanyi sendiri berbeda dengan yang dulu.

"Dulu hanya mencangkul tapi lebih banyak waktu untuk berbuat baik, punya waktu untuk keluarga. Karena itu dalam banyaknya informasi kita mencari kehendak Tuhan agar dengan itu menemukan kabar gembira," katanya.

Maria katanya menjadi model ketaatan kepada kehendak Tuhan.

Model itu harus diikuti mereka yang melakukan sumpah jabatan dan pakta integritas.

"Jangan ikut angin kiri, angin kanan. Jangan kita terombang-ambing oleh rupa-rupa angin ajaran dan doktrin tapi mengikuti ajaran Tuhan," ujarnya.

Ketololan agama moderen katanya beribadat tanpa berkurban.

Di dalam gereja Katolik pengurbanan itu dirayakan dalam ekaristi setiap hari agar kuat memikul salib, diselematkan dan menjadi pewarta Kabar Gembira. (dma)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved