TPA Aertembaga Bakal Diperluas
Sekilas tempatitu bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jalan masuk terbuat dari paving blok diteduhi pohon - pohon berdaun lebat. Ada taman di sela
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Sekilas tempat itu bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Jalan masuk terbuat dari paving blok diteduhi pohon - pohon berdaun lebat.
Ada taman di sela - sela pepohonan.Di atas rerumputan pada sebuah
taman, terdapat permainan anak - anak seperti di taman kanak kanak.
Seluruh area bersih dari sampah, di beberapa area bersih dari suara.
Hening.
Terdapat sejumlah bangunan, berbentuk minimalis serta rumah adat.Barulah ketahuan
tempat itu TPA setelah menepi dan nampak tumpukan sampah, eskavator serta truk, jauh di bawah.
Area pengolahan sampah terpisah jauh, bau sampah tak tercium.
Itulah keadaan TPA Artembaga di Kelurahan Aertembaga yang jadi kebanggaan warga kota Bitung.
TPA tersebut berandil pada raihan piala Adipura kota Bitung yang berturut - turut selama beberapa tahun.
Kening Lucky Masambe, penanggung jawab TPA tersebut langsung berkerut begitu Tribun Manado memberitahukan rencana pembuatan TPA
Regional yang meliputi daerah Minut, Minahasa, Bitung dan Manado.Menurut Lucky, TPA di Bitung tetap akan dipertahankan. Bahkan diperluas.
"Pekan depan akan dipasangi jembatan timbang dari Kementerian PU, tujuannya agar volume sampah bisa diukur," kata dia.
Dari pertemuan dengan pihak Kementerian beberapa waktu lalu, dipresentasikan rencana perluasan TPA itu dipresentasikan dan disetujui.
"Akan diperluas," kata dia. Dikatakan Lucky, mustahil bila sampah di Bitung akan dibawa
ke Wori dikarenakan pengalaman sulitnya truk pengangkut sampah mengangkut sampah di Bitung.
Dia menduga TPA Regional nantinya akan mengangkut sampah dari wilayah KEK.
"Sulit jika demikian," kata dia.Lucky tak memungkiri bila TPA tersebut sudah tidak sebanding dengan sampah yang masuk tiap hari.
"Secara teori memang demikian, sampah perhari kini mencapai 677,71 kubik perhari, sedang kapasitasnya 393,95 kubiktapi prakteknya bisa disiasati,
tak ada overload," kata dia.
Dikatakan Lucky, TPA di Bitung sudah memakai sanitary landfill.Sampah disusun, diolah kemudian dikuburkan dalam tanah.
Sebutnya lagi, TPA tersebut ramah lingkungan.Air hasil pengolahan tidak merembes dalam tanah.
"TPA memakai sistem
geotekstil, air dari proses pengolahan tidak meresap ke dalam tanah namun disalurkan ke tempat pengolahan pembuangan air," kata dia.
Selain mengolah sampah dalam jumlah besar, TPA itu juga memproduksi kompos dari sampah ranting dan dedaunan.
Keistimewaan lainnya dari TPA itu adalah bisa menghasilkan gas metan.
"Gas metan ini digunakan 22 pemulung untuk masak," kata dia. (art)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/lahan-tpa_20161025_155201.jpg)