Kisah Pencari Rumput Makanan Kuda di Tondano yang Mampu Kuliahkan Anak
"Walaupun berat, setidaknya kami bangga anak kami bisa sekolah hingga selesai kuliah,"
Penulis: Alpen_Martinus | Editor: Aldi Ponge
Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Menjadi pencari rumput untuk makanan kuda mungkin untuk sebagian orang bukan pekerjaan yang menjanjikan.
Namun tidak berlaku bagi warga Tondano yang bekerja sebagai pencari rumput sejak 30 hingga 40 tahun silam,
Mereka harus bangun pagi untuk mencari rumput, yang mereka sebut rumput serawet yang tumbuh di pinggir danau ataupun sawah yang sudah selesai panen.
Biasanya rumput yang mereka dapat sekitar 300-400 ikat dikumpulkan dan dibawa menggunakan mobil ke dekat jembatan kayu besi Wengkol untuk dijual kepada pembeli yang kebanyakan adalah kusir atau pengusaha bendi.
Sembari menunggu, mereka biasanya beristirahat dan saling bertukar pikiran bersama di tempat berupa gubuk yang mereka buat.
Jika ada yang beli rumput, mereka yang naikkan ke bendi atau ke kendaraan.
Satu ikat rumput biasa mereka hargai dengan Rp 500. Kalau tidak terjual juga biasa diganti dengan yang baru.
Biasanya juga sudah ada yang memesan. Keuntungan yang mereka dapat dibagi bersama. Rata-rata mereka bawa pulang uang Rp 100 ribu tiap hari.
Cukup lumayan untuk mereka menghidupi keluarga, bahkan mereka sudah berhasil menyekolahkan anak mereka.
"Saya sudah menjadi pencari rumput sekitar 30 tahun, dan lumayanlah anak saya sudah selesai kuliah, dan itu menjadi kebanggaan kami sebagai pencari rumput namun anak bisa kuliah sampai selesai," jelas Denny Muntuan, Warga Tondano.
Senada Ferdy Singkoh yang sudah bekerja sebagai pemcari rumput sejak 40 tahun silam."Dulunya ikut orang tua dan sampai sekarang," jelasnya.
Namun tak bisa dipandang sebelah mata, ia sudah berhasil menyelesaikan anaknya hingga selesai sekolah.
"Walaupun berat, setidaknya kami bangga anak kami bisa sekolah hingga selesai kuliah," jelasnya.
Namun kini hanya tersisa mereka saja, belum ada yang mau meneruskan pekerjaan mereka tersebut.
"Dulu di sini ada sekitar 40 orang, tapi sekarang tinggal kami, tidak tahu setelah kami masih ada yang mau cari rumput atau tidak," jelasnya.
Dulunya juga bendi masih banyak, namun sekarang sudah tinggal sedikit juga.
"Bersyukur sekali, mereka menyediakan rumput," jelas Said Suratinoyoh, pemilik bendi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/penjual-rumput_20170829_000116.jpg)