Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Butuh Waktu 10 Tahun, Begini Cara LAI Menerjemahkan Alkitab Loh

Sulut sudah memiliki 5 Alkitab terjemahan dalam bahasa lokal yakni bahasa Sangihe, Siau, Mongondow, Bahasa Manado dan Bahasa Tagulandang.

Penulis: | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/WARSTEFF ABISADA
Kepala Perwakilan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Manado, Ansee Titahelu 

Laporan Wartawan Tribun Manado Warstef Abisada

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Terjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah di Sulawesi Utara terus dilakukan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Manado.

Hal itu dilakukan agar Firman Allah bisa dimengerti, dan dipahami oleh seluruh umat agar mengalami hidup baru didalam Kristus.

‘’Proses terjemahan terus dilakukan oleh Lembaga Alkitab Indonesia agar Firman Allah bisa dimengerti oleh umat. Jadi, terjemahan yang dilakukan termasuk dalam bahasa daerah,’’ kata Ansee Titahelu, Kepala Perwakilan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Manado, Senin (28/8/2017).

Di Indonesia ada 784 bahasa daerah. Dari jumlah tersebut, Alkitab perjanjian lama dan baru berhasil diterjemahkan lengkap dalam 33 bahasa daerah. Untuk perjanjian baru, ada 54 bahasa daerah.

‘’Di Sulawesi Utara Alkitab yang sudah diterjemahkan lengkap (perjanjian lama dan baru) ke dalam bahasa daerah dan sudah diterbitkan ada tiga, yakni Sangihe pada 2003, Siau 2008, serta Mongondow pada 2016,’’ jelasnya.

Alkitab perjanjian baru yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa daerah ada dua di Sulawesi Utara, yakni Manado 2016 dan Tagulandang sejak 2014.

‘’Untuk Alkitab dalam bahasa Tagulandang, kini proses terjemahannya dilakukan untuk perjanjian lama. Jika sudah selesai, akan disatukan dengan perjanjian baru agar menjadi terjemahan lengkap,’’ tuturnya.

Proses terjemahan Alkitab menurut Ansye sangat lama. Membutuhkan waktu hingga 10 tahun hingga tuntas ke terjemahan lengkap dalam satu bahasa daerah.

‘’Yang pertama kali diterjemahkan biasanya perjanjian baru, sebab jumlah kitabnya lebih sedikit, yakni 27 kitab. Sedangkan perjanjian lama menjadi yang terakhir, sebab kitabnya lebih banyak yakni 39 kitab,’’ ungkapnya.

Ansye mengatakan, terjemahan Alkitab dilakukan sangat teliti dan dibaca berulang kali, sebelum diterbitkan untuk disebarkan ke jemaat.

‘’Yang diterjemahkan adalah kebenaran Firman Allah. Jadi, tidak sembarang terjemahan dilakukan, jika ada koreksi langsung diperbaiki dan harus dibaca ulang agar saat jemaat membaca bisa memahaminya dengan baik,’’ tuturnya.

Alkitab yang diterjemahkan, kata Ansye, dicetak dengan jumlah minimal 5 ribu eksemplar bekerjasama dengan sinode dimana bahasa daerah itu berasal.

‘’Masyarakat sangat antusias untuk menggunakan Alkitab bahasa daerah. Di Sangihe misalnya, setiap minggu ke-4 ibadah dilakukan dalam bahasa daerah termasuk saat membaca Alkitab. Jadi, lembaga ini akan terus menterjemahkan Alkitab dalam bahasa daerah di Indonesia,’’ tukasnya. 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved