Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Nontje Berburu Rezeki Menjadi Penjual Seledri

Setiap orang memiliki pilihan pekerjaan apa saja yang terpenting halal dan bisa untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Penulis: Alpen_Martinus | Editor:
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS

Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Setiap orang memiliki pilihan pekerjaan apa saja yang terpenting halal dan bisa untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Menjadi pemborong tanaman seledri menjadi pilihan Nontje Lontaan sudah puluhan tahun.

Dulunya ia petani seledri namun sejak suaminya meninggal dunia bertahun-tahun lalu, ia memilih untuk membeli dan menjual kembali seledri.

Kadang ia jajakan sendiri, namun kadang ia jual ke pedagang lain yang kemudian menjajakan kembali, ada dari Tondano, Manado, dan daerah lain.

Biasanya membeli dari petani ia juga harus membayar orang untuk membersihkan dari tanah, kemudian harus memilah kembali dari pelepah daun seledri yang sudah rusak dan tidak layak jual.

Biasanya jika panas tanaman seledri bisa langsung panen dalam waktu tiga Minggu, namun kalau hujan bisa dua bulan.

"Lebih baik air alam daripada air hujan," jelasnya.

Untuk membeli satu bedeng ia biasanya harus merogoh kocek Rp 800 ribu namun tergantung juga dari harga pasar.

"Kami cabut kalau harga bagus tapi kalau tidak ya kadang kami tidak panen lantaran banyak seledri di pasar," ujarnya.

Keuntungan yang didapat biasa satu bedeng bisa mencapai Rp 300 ribu, sebab untuk cabut dan bersihkan juga harus bayar orang.

Per kilogram biasa dijual dengan harga Rp 20-15 ribu kadang juga Rp 10 ribu, per pohon biasa Rp 2 ribu saja.

"Satu bedeng juga biasa seratus ribu rupiah untungnya, biasa hanya balik modal, biasa juga rugi, biasa juga satu bedeng itu tiga kali cabut tergantung dari permintaannya," jelas dia.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved