Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Keluarin 100 Ribu Buat ke Pasar, Warga Terpencil Bolmong Butuh Bantuan Pangan

Akses yang sulit, serta jauh membuat warga harus mengeluarkan uang lebih kalau ke pasar.

Penulis: Finneke | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/VALDY VIERI SUAK
Ilustrasi pasar 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Warga yang tinggal di desa terpencil di Bolaang Mongondow menjadi prioritas penyaluran bantuan pangan dari Dinas Ketahanan Pangan. Tahun ini 15 ton cadangan beras belum tersentuh sama sekali.

Desa Inkarat dan Desa Kanaan, Kecamatan Dumoga Timur menjadi dua di antara desa prioritas bantuan pangan. Warga yang tinggal di desa ini sangat jauh dari jangkauan.

Berada di atas pegunungan, bahkan terpisah dengan sungai.

Warga di sini hanya menggunakan rakit untuk melalui cabang anak Sungai Ongkag, menuju Desa Toruakat.

Akses yang sulit, serta jauh membuat warga harus mengeluarkan uang lebih kalau ke pasar.

Jika air naik, bisa sampai Rp 100 ribu hanya untuk transportasi. Warga mengaku sangat kesulitan.

"Kalau hujan malah kami tak ke pasar. Tak bisa karena air sungai tinggi. Kalau ke pasar butuh banyak untuk transportasi. Kalau ke Pasar Pusian dekat, kalau di Mopuya yang jauh sekali. Kalau bilang butuh, yah kami butub bantuan beras," ujar Ningsih, warga Kanaan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bolmong, Imi Manangin mengatakan, dalam waktu dekat ini warga Desa Kanaan dan Inkarat akan mendapat bantuan cadangan beras Pemkab Bolmong. "Disposisinya sudah turun," ujarnya Rabu (23/8).

Wajar jika desa ini mendapat bantuan, bersama tujuh desa terpencil lainnya untuk tahap ini. Seperti Pomoman, Inkarat, Bilalang dan beberapa lainnya. Sebab akses sangat jauh, tinggal do pegunungan yang bukan penghasil beras. Juga tergolong miskin.

"Hitung-hitungannya, mereka keluarkan transportasi hingga Rp 100 ribu. Itu sudah bisa beli beras atau bahan lainnya. Nah karena itu, mereka layak mendapat bantuan pangan," ujarnya.

Tahun ini, 15 ton cadangan pangan Bolmong belum terpakai. Hal ini karena tak ada peristiwa yang mendesak segera menyalurkan bantuan. Sebab sistem penyaluran bantuan ini sesuai dengan pengajuan dari sangadi ke bupati.

"Tahun ini tak ada bencana kan. Kalau banjir di Dumoga baru-baru ini hanya genangan, langsung surut. Jadi tipikal bencana untuk dapat bantuan yah bencana yang berlarut-larut," ucapnya.

Tahun lalu, Bolmong hanya mendapat 13 ton beras. Sebenarnya, sesuai aturan tiap daerah harus punya 100 ton tiap tahun. Namun karena Bolmong penghasil beras, sehingga jatahnya hanya sedikit.

"Jatah tahun lalu habis, kita minta tambah ke provinsi. Dari 13 naik 15 ton, bukan berarti penduduk miskin bertambah. Tapi memang jumlah yang ada belum bisa menutupi kebutuhan masyarakat miskin di Bolmong," jelasnya. (fin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved