Warga Meneteskan Air Mata Lihat Drama Kolosal Perlawanan Laskar Banteng Usir Penjajah
Drama kolosal ini dipentaskan, di depan Bupati Bolaang Mongondow Timur Sehan Landjar.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Vendi Lera
TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Perlawanan laskar Banteng mengusir Kolonial Belanda dari Bolaang Mongondow dicerita oleh siswa SMP Negeri Daerah Kotabunan, lewat drama kolosal di lapangan Gogaluman, Kamis (17/8).
Drama kolosal ini dipentaskan, di depan Bupati Bolaang Mongondow Timur Sehan Landjar, setelah selesai melaksanakan upacara bendera di Warga yang menyaksikan menetaskan air mata, ketika melihat adegan seorang bapak dan ibu menangisi anaknya meninggal di medan perang.
"Saat adegan ibu dan bapak menangis melihat anaknya meninggal, saya langsung meneteskan air mata, ketika adegan itu. Karena membayangkan betapa besar pengorbanan mereka mempertahankan Indonesia," ujar warga Lita Potabuga.
Menurutnya, makna di balik drama tentang peristiwa 19 desember 1945 di Bolaang Mongondow, perlu diketahui, sebab perjuangan pahlawan serta semangat harus terus dicontohkan sampai sekarang.
Sementara Iman Moho, guru seni budaya SMP negeri daerah Kotabunan mengatakan, cerita ini diangkat dari perjuangan masyarakat Bolmong dalam mengusir Belanda.
Kejadian pada 19 Desember 1945 dimana pasukan Banteng dibawah pimpinan Faisal Kasad Damopolii sebagai Komandan umum. Sewaktu itu Bolmong dipimpin oleh raja H.J.C. Manoppo.
"Memang rakyat Bolmong sewaktu itu begitu gigih melawan Belanda. Sehingga mereka rela mati demi mempertahankan daerah Bolmong,"ujar Imam Moho.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/drama-kolosal-smp-negeri-daerah-kotabunan_20170817_195522.jpg)