Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Empat Pasar di Boltim senilai Rp 11,1 Miliar tak Juga Berfungsi

Proyek pembangunan pasar-pasar di kabupaten/kota di Sulawesi Utara (Sulut) sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu.

Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
YOUTUBE
Kondisi Pasar Boltim 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO, TUTUYAN - Proyek pembangunan pasar-pasar di kabupaten/kota di Sulawesi Utara (Sulut) sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu. Pasar-pasar yang masing-masing bernilai miliaran rupiah itu sudah rampung dan seharusnya menjadi tempat jual beli bagi masayarakat sekitar.

Faktanya, dari temuan Tribun Manado, sejumlah pasar sudah berdiri kokoh di beberapa kabupaten/kota, namun dibiarkan kosong, dan saat ini sebagian bangunan rusak dan ditumbuhi semak belukar.

Di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) misalnya. Ada empat bangunan pasar yang sudah rampung pengerjaan sejak lama namun belum juga beroperasi.

Masing-masing di desa Buyat I Kecamatan Kotabunan, Pondabo di Desa Tutuyan, Motongkad dan Desa Iyok Kecamatan Nuangan.

Dari pantauan Tribun Manado, Jumat (11/8), di Pasar Pondabo yang terletak di Desa Tutuyan, terlihat sudah tak terawat. Padahal anggaran untuk proyek yang dimulai 2011 silam itu habiskan Rp 3,9 miliar.

Kemudian untuk Pasar Buyat berbandrol Rp 2,2 miliar, pasar di Motongkad Rp 2,5 miliar, dan pasar di Desa Iyok habiskan Rp 2,5 miliar dibangun tahun 2015.

Proyek-proyek puluhan miliaran rupiah itu saat ini hanya terbengkalai, dipenuhi ilalang, sampah, dan jadi tempat bernaung hewan ternak.

Kondisi Pasar Pondabo saat sudah dipenuhi sampah, alang alangnya menutupi halaman sedangkan lantai kotor dan dipenuhi kotoran hewan.

Tembok bangunan pasar Pondabo sebagaian besar terklupas, Jalan penghubung dalam pasar, dari bangunan satu ke bangunan lainnya masih belum rampung, paving block belum, terpasang.

Kondisi Pondabo serupa dengan pasar di Buyat. Akses jalan menuju pasar rusak, jika hujan dipenuhi genangan air dan becek. Gapura pasar bertuliskan 'Selamat Datang' sudah dipenuhi ilalang dan menjadi tempat tidur hewan.

Kondisi Pasar Motongkad dan pasar di Desa Iyok lebih buruk lagi. Pasar yang terletak di pinggir pantai itu beberapa bangunan kusam dan rusak, serta dipenuhi sampah.

Sangadi Buyat I Rohani Abas saat dihubungi Tribun Manado menegaskan kondisi pasar yang mubazir. Menurutnya, hingga saat ini Pasar Buyat belum beroperasi. Karena masih banyak kekurangan.

"Sekarang pasar tersebut dipenuhi kotoran hewan serta rumput. Sayang sekali dana sebesar Rp 2,2 miliar mubazir," ujar Rohani Abas.

Saat disinggung bahwa Pemerintah Kabupaten Boltim nanti akan melakukan kerja sama pengelolaan pasar dengan aparat desa ia mengaku siap.

"Kami siap untuk pengelolaannya melalui koperasi yang ada," ujar dia.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Bupati Boltim Sehan Landjar melalui Sekretaris Daerah Muhammad Assegaf, tidak membantah keadaaan ke empat pasar tersebut.

Menurutnya, pasar-pasar itu tidak terbengkalai namun pembangunannya belum rampung dan segera dituntaskan.

"Ya memang ke depan keempat pasar ini, akan beroperasi. Jadi 2018 dipastikan semua kekurangannya dilengkapi," ujar Assegaf.

Ia juga mengakui bahwa Pasar Pondabo di Tutuyan belum layak dioperasikan, karena masih banyak kekurangan seperti tidak ada air, listrik serta jalan belum di-paving block.

Sedangkan untuk Pasar Buyat, lanjut Assegaf, ia juga menyatakan akan segera dilengkapi agar bisa digunakan warga masyarakat.

"Rencananya pengelolaan khusus Pasar Buyat akan diserahkan kepada pemerintah desa melalui koperasi yang ada," ujarnya.

Bagaimana dengan Pasar Iyok di Nuangan dan Pasar Motongkad? Kembali Assegaf menjawab dengan tenang dan tidak menyinggung soal kerusakan dan kondisi pasar yang terbengkalai.

"Pasar Iyok di Nuangan akan dijadikan pasar ikan, sebab cocok dengan posisinya berdiri tak jauh dari pantai. Pasar Motongkad akan beroperasi 2018," ujarnya. (ven)

Pasar Mangkrak Munculkan Proyek Baru

KONDISI empat pasar bernilai puluhan miliar rupiah yang terbengkalai dan tidak kunjungan digunakan ternyata menimbulkan proyek baru, proyek optimalisasi pasar.

Lagi-lagi dana miliaran rupiah harus kembali dikucurkan.

Kadis PerindagKop dan UKM Ahmad Mulyadi bahkan mengatakan, rencana awal sudah disusun anggaran untuk 2018--terkait optimalisasi seluruh pasar di Boltim-- sebesar Rp 8,4 miliar.

Namun hanya terealisasi Rp 2,4, dan dana itu untuk Pasar Pondabo di Tutuyan.

"Pada hal anggaran Rp 8,4 miliar akan menyelesaikan pasar di Buyat, Motongkad, Tutuyan dan Iyok. Tetapi hanya diakomodir Pondabo Rp 2,4 miliar," ujar Ahmad Mulyadi.

Pernyataan Ahmad ini mementahkan keterangan Sekretaris Daerah Muhammad Assegaf, yang menyatakan pada tahun 2018 mendatang keempat pasar yang terbengkalai akan beroperasi, dan semua kekurangannya dilengkapi.

Dengan pernyataan Ahmad tersebut, dipastikan tahun 2018 tiga pasar akan tetap terbengkalai dan bangunan kosong yang kusam dan suram.

Mengenai peruntukkan dana Rp 2,4 yang telah disetujui untuk optimalisasi Pasar Pondabo, Ahmad menjelaskan dan itu akan dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan penimbunan, pengerasan, serta paving block.

"Dan juga untuk perlengkapan lainnya (tanpa rincian). Jika dana tersebut lebih dari Rp 2,4 maka digeser ke Pasar Buyat," ujarnya. (ven).

Polisi akan Usut Tuntas

PROYEK pembangunan pasar-pasar di Boltim ternyata bermasalah. Untuk saat ini masalah muncul baru terlacak di pihak kontraktor.

Kadis PerindagKop dan UKM, Bolaang Mongondow Timur Ahmad Mulyadi menjelaskan bahwa terkait proyek pasar di Buyat senilai Rp 2,2 miliar, di Motongkad Rp 2,5 miliar, serta di Iyok Rp 2,5 miliar.

Ada tiga kontraktor yang kena Tuntutan Ganti Rugi (TGR) total Rp 406 juta dalam proyek pembangunan pasar di Boltim
Ketiga perusahan tersebut CV CD pemilik JB, CV B pemilik Me dan CV CP milik IK.

"Untuk CV CD dan CV B sudah melunasinya TGR, sedangkan CV CP masih harus membayar TGR Rp 135 juta," ujar Ahmad Mulyadi.

Dikonfirmasi terkait kasus tersebut, Kasat Serse Porles Bolmong AKP Hanny Lukas mengatakan ketiga kontraktor yang harus membayar TGR total Rp 406 juta itu sudah diperiksa.

Hasil pemeriksaan serta penyelidikan beberapa waktu lalu, menyatakan ketiganya tersangka.

Namun lanjutnya, penyelidikan serta kelengkapan berkas masih menunggu audit BPK. "Tetapi proses hukum tetap berjalan sesuai prosedurnya," ujarnya.

Dia mengungkapkan kasus tersebut dikethaui dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Terjadi kerugian terhadap negara atas pembangunan tiga pasar yakni Buyat, Motongkad dan Iyok.

"Kasus merugikan negara akan diusut secara tuntas. Kepolisian masih menunggu BPK, untuk proses lebih lanjut," kata dia. (ven)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved