Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Eksklusif

72 Ribu Kilogram Sampah Medik RSUP Kandou Manado Sudah 4 Bulan Dibiarkan Menumpuk

Sampah-sampah ini tertumpuk di bekas kantin belakang ruang Instalasi Pemiliharaan Sarana Gedung Peralatan Non Medik dan Sanitasi.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
FOTOGRAFER TRIBUN MANADO/ANDREAS GERALD RUAUW
Sampah medik RSUP Kandou Manado dimasukan dalam kantong berwarna kuning sudah empat bulan dibiarkan menumpuk. Beratnya ditaksir mencapai 72 ribu kilogram. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pembuangan dan pengelolaan sampah medis di RSUP Prof RD Kandou dan RSU Pancaran Kasih mulai disorot.

Pasalnya, lokasi pembuangan sampah medis di dua rumah sakit ini, dekat pemukiman penduduk, sehingga menimbulkan bau busuk dan tidak sehat.

Pantauan Tribun Manado, Rabu (5/7), di lokasi penampungan sampah medis maupun non medis di RSUP Prof RD Kandou Manado tampak sampah menggunung yang dibungkus plastik berwarna kuning belum dibuang.

Begitu juga sampah medis belum dimusnahkan. Terpantau ada jarum suntik bekas, jarum infus, obat-obatan dan sampah medis lainnya.

Sampah-sampah ini tertumpuk di bekas kantin belakang ruang Instalasi Pemiliharaan Sarana Gedung Peralatan Non Medik dan Sanitasi, RSUP Prof Kandou Malalayang.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak dua ruangan kantin terpakai untuk menampung ratusan kantong plastik tersebut.

Kantong berwarna kuning itu adalah tumpukan sampah medis Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang, yang sudah berbulan-bulan menumpuk.

Bau obat-obatan juga tercium sangat menyengat ketika mendekati tumpukan sampah tersebut.

Meski begitu, beberapa pekerja tetap semangat membakar sampah yang menumpuk tersebut.

Dengan menggunakan halte putih dan penutup hidung, satu persatu sampah dimasukan ke dalam alat Insenerator yang memiliki corong tempat keluarnya asap.

Salah satu pekerja yang bernama Ricko, mengaku sudah terbiasa mengangkat dan membakar sampah medis.

Meski pada awal-awal bekerja, ia sempat takut jangan sampai terkena jarum suntik dan tertular penyakit.

"Awalnya memang takut, tapi sekarang karena sudah terbiasa rasa takut itu perlahan mulai hilang," kata dia.

Asap dari proses pembakaran sampah plastik juga sangat mengganggu masyarakat sekitar.

Skivo Kolondam, warga sekitar mengatakan, masyarakat yang tinggal di dekat rumah sakit, hampir setiap harinya ia dan keluarga mencium bau pembakaran sampah medis dari arah rumah RSUP Prof Kandou Malalayang.

"Kalau duduk di depan rumah selalu cium bau asap yang bercampur dengan obat-obatan. Saya juga sering larang anak-anak untuk terlalu lama di luar rumah," ujar dirinya.

Pria 37 tahun itu juga berharap ada terobosan dari RSUP Prof Kandou Malalayang untuk membuat pembakar sampah medis ramah lingkungan.

"Kami berharap pihak rumah sakit bisa berbuat sesuatu, karena kasihan juga kami yang tinggal dekat dengan rumah sakit selalu mencium bau-bau yang seperti ini," pintanya.

Terkait hal ini, Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana Gedung, Peralatan Non Medik dan Sanitasi, Melky Mananohas SE mengatakan, persoalan sampah dan limbah di RSUP Prof RD Kandou telah ditangani dengan memperhatikan kajian lingkungan secara profesional.

'' Jadi di RSUP Prof Kandou ada dua jenis sampah yakni, sampah medis dan non medis. Khusus sampah medis kami melakukan pembakaran dengan menggunakan alat yakni insenerator dan autoclave," ujar Melky, Rabu (5/7).

Dia menjelaskan, kedua alat ini berfungsi membantu pengelolaan sampah. Insenerator merupakan tempat membakar sampah medis.

''Kalau pun ada asap yang keluar saat pembakaran, itu tak berbahaya lagi, '' ujar Melky.

Sedangkan Autoclave berfungsi dalam proses penghancuran dan sterilisasi sampah tanpa menimbulkan polusi.

''Kami telah berupaya mengelola secara maksimal sesuai standar pengelolaan lingkungan, sehingga sampah medis tidak lagi membahayakan lingkungan sekitar, '' ujarnya.

Melky menambahkan, pihaknya melalui Direktur Utama RSUP Prof RD Kandou, Dr Maxi Rondonuwu telah merencanakan menambah satu unit Autoclave.

Pihaknya juga melakukan penanganan sampah non medis. Misalnya alat-alat rumah sakit yang rusak yakni meja, kursi, hingga lemari.

Pria 46 tahun ini menambahkan dalam sehari, sampah medis yang dihasilkan bisa mencapai 500 sampai dengan 620 kilogram.

"Kalau sebulan ada 18.000 kilogram, jadi selama empat bulan mesin rusak sampah yang menumpuk sekitar 72.000 kilogram," aku Melky.

Sementara itu, limbah medis di RSU Pancaran Kasih Manado memang dekat dengan pemukiman warga. Hanya sampah ini nanti tercium saat dekat lokasi penampungan.

Rabu (5/7), terlihat ada enam plastik sampah besar warna hitam berada dekat lokasi penimbunan dan parkiran kendaraan. Satu rumah kosong dijadikan penampungan alat rumah sakit yang sudah tak terpakai.

Boy, tukang parkir yang keseharian mengatur kendaraan menilai saat ini bau limbah medik dari rumah sakit sudah tak seperti lima tahun lalu.

"Sampah dan limbah medik dari tempat penampungan milik rumah sakit, sehari dua kali diangkut jam 4 subuh dan 5 sore," ujarnya.

Sampah medis dan non medis saat ini dimasukkan di satu kantong besar, sehingga tidak bau.

"Setiap hari ada enam petugas yang mengurus sampah di tempat penimbunan sampah rumah sakit," ujarnya.

Direktur RSU GMIM Dr Franky Kambey M Kes mengatakan, untuk sampah di rumah sakit pihaknya bekerja sama dinas Lingkungan hidup kota Manado.

"Ada MoU antara kami rumah sakit dengan mereka untuk angkut," ujar Kambey.

Namun dia enggan merinci untuk limbah Medik penanganannya seperti apa.Dia mengaku selalu koordinasi dengan cleaning service, pasien agar dalam membuang sampah memisahkan sampah non medik dan medik.

"Pagi dan sore mulai diangkut kami belum bangun mereka sudah bangun untuk angkat sampah," ujarnya menambahkan.(nie/crz)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved