Berita Eksklusif

(CONTENT) Pungli Pengurusan SIM Melibatkan Oknum Petugas, Modus Ini yang Diterapkan

Refly Ngongoloy mengatakan, dia pernah mengurus SIM C di Polresta Manado dengan biaya hingga Rp 600 ribu.

Pelayanan pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) masih menuai banyak keluhan masyarakat.

DL (30) warga Bitung menceritakan pengalaman yang dialaminya saat memperpanjang SIM C di Satlantas Polres Bitung pada tahun lalu.

Dia datang ke loket pelayanan SIM pada Jumat siang, saat itu. Hanya ada dua petugas yang berada di tempat tersebut karena sudah waktunya istirahat siang.

Ada polisi yang bertugas untuk foto dan input data dan ada polisi wanita berpangkat bripda yang melayani di loket. Warga yang mengurus SIM pun hanya tiga orang tersisa.

"Setelah memasukkan dokumen persyaratan termasuk surat keterangan dokter. Tak lama, saya dipanggil untuk sidik dan foto dalam sebuah ruangan," bebernya.

Tak ada proses tes tertulis dan tes praktek. Beberapa warga yang mengurus SIM tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan SIM‑nya.

"Saya hanya butuh 10 menit sudah dipanggil Polwan ke bagian belakang loket. Saat itu, saya diminta biaya SIM yang sudah ditangannya sebesar Rp 250 ribu," ujarnya.

DL pun mempertanyakan perbedaan biaya yang terpampang di depan pintu masuk hanya sebesar Rp 75 ribu."Alasan dia (Polwan) tak dites. Saya pun minta agar dites saja karena biayanya terlalu mahal," ujarnya.

Setelah berdebat beberapa saat, polisi pun memintanya ke ruangan tes tertulis."Saya menduga, saya dikelabui dengan ikut tes tersebut. Saya lihat kursi yang digunakan untuk tes berdebu, mungkin jarang digunakan," bebernya.

Dia pun mengikuti tes tanpa penjagaan petugas. Ada 30 nomor soal objektif yang harus dijawabnya.

"Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, mungkin jawaban lima salah karena tak yakin saat menjawab," bebernya.

Selesai menjawab soal tersebut, polisi ketiga muncul. Dia yang memeriksa jawaban menggunakan mal penilaian jawaban yang sudah disediakan.

"Saya mulai curiga dengan plastik yang digunakan sebagai mal jawaban itu. Untuk menilai jawaban saya harus digesar‑geser," jelasnya

Hasil penilaian pun tak membuatnya kaget, jawaban hanya lima benar. Polisi tersebut pun dengan ramah menyampaikan agar kembali minggu berikutnya untuk mengikuti tes lagi.

"Dia tanya, kenapa saya harus berdebat dengan polisi. Saya jawab juga dengan ramah. Saya pura‑pura tak yakin jawaban salah semuanya," katanya.

Dihadapan polisi tersebut, DL memotret naskah soal tes, lembar jawaban, dan mal penilaian yang digunakan polisi.

"Saya bilang. Saya akan kembali pekan depan untuk tes. Tapi hari ini (waktu itu) saya akan temui kapolres untuk sampaikan bukti‑bukti yang saya foto dan rekam. Saya tahu mal penilaian ini hanya akal‑akal agar tak lulus," tegasnya.

Polisi itu pun mungkin merasa tersudut dengan bukti yang sudah dimilikinya. Sehingga membujuk DL agar tak mempersoalkan hal tersebut. Polisi pun meminta agar foto‑foto tersebut tak disebarkan ke media sosial.

"Dia meminta saya menemui atasannya berpangkat Bripka. Di sana mereka sudah tampak akrab terhadap saya. Bahkan mereka tak mau menerima uang saya, tapi tetap saya bayar Rp 80 ribu. Mereka serahkan SIM tapi saya merekam semua itu percakapan di situ," ujarnya.

Lain lagi yang dialami  Fantry Budiman, warga Kecamatan Wenang yang sudah dua kali tak lulus ujian ketika mengurus SIM di Satpas Polresta Manado.

Kepada Tribun Manado, Senin (3/7), ia mengaku terpaksa menggunakan jasa calo karena tak pernah lulus dalam tes drive ketika membuat SIM.

"Padahal saya mengendarai mobilnya dengan benar, tapi entah kenapa saya tak pernah lulus," aku pria 27 tahun itu.

Kecewa karena tak lulus ujian, ia akhirnya memilih menggunakan jasa calo. "Memang harganya lebih mahal yakni 400 ribu, tapi daripada SIM saya tak pernah jadi," kata dia. 

Hal berbeda disampaikan Helena warga Kabupaten Minahasa ketika ditemui Tribun Manado di Mako Polda Sulut siang tadi.

Menurutnya, ia terpaksa membuat SIM di Mobil SIM keliling karena punya kedekatan dengan seorang temannya."Memang saat itu saya tunggu hingga sepi, sekitar jam 4 atau 5 sore barulah saya dilayani," ujarnya.

Saat itu Helena kurang lebih merogoh kocek hingga 350 ribu untuk mendapatkan SIM A miliknya."Buatnya hanya sekitar 30 menit dan itu tidak lama," kata dirinya.

Namun ketika ditanyakan siapa temannya tersebut, Helena enggan untuk memberitahukan namanya. "Pokoknya teman saja, kalau dimuat di media nantinya dia yang kena masalah," ucapnya.

Agung Kurniawan, salah satu distributor farmasi mengatakan hal berbeda. Menurutnya mengurus SIM di Manado sangat jauh berbeda dibandingkan Jakarta.

"Disini orangnya lebih sopan dan lebih mudah dibandingkan Jakarta, padahal saya baru sebulan disini," aku dia.

Pria yang baru berada di Manado selama sebulan ini juga mengaku tidak ada masalah ketika mengurus SIM miliknya.

"SIM saya kan hilang kemarin, jadi saya mau buat yang baru. Sejauh ini aman‑aman saja, tapi memang kata petugas saya lebih mudah karena sudah pernah buat SIM," ungkapnya.

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sulut Kombes Pol Ari Subiyanto ketika di konfirmasi meminta agar masyarakat menghindari menggunakan jasa Calo.

"Sekarang kan semuanya sudah lebih terbuka. Yah, kalau tidak lulus berarti harus diulang lagi, jangan jadi alasan untuk gunakan jasa Calo," kata Subiyanto.

Terkait adanya oknum polisi yang ikut terlibat calo, Subiyanto akan mengeceknya kembali."Saya memang belum terima laporannya, tapi kalau memang masyarakat temukan jangan segan untuk melapor pada kami," tandasnya. 

Kualitas Pelayanan Buruk

(Oleh: Ferry Daud Liando, Tim Ahli Penilai Inovasi Pelayanan Publik Pemprov Sulut)

Buruknya kualitas pelayanan publik dalam rangka pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM), merupakan satu di antara peluang untuk calo memanfaatkan situasi tersebut.

Selain itu, prosedur resmi yang harus dilalui pemohon terkesan berbelit‑belit dan sangat panjang. Menyebabkan meski mahal, kerap masyarakat menggunakan calo karena ingin pelayanannya cepat dan tidak berbelit‑belit.

Sekali lagi warga sudah tahu melalui calo mahal, tetapi pelayanannya cepat dan mudah, ketimbang tidak membayar atau gratis tapi prosedur untuk mendapatkannya sulit.

Peluang lainnya ada yang memberi kesempatan kepada calo. Calo bergerilya karena ada oknum yang diduga memberi jalan atau pihak yang bekerja sama. Jika  calo  tidak diberi kesempatan beraktifitas, maka calo itu tidak mungkin ada.

Seharusnya di setiap kantor pelayanan tak terkecuali pelayanan pembuatan SIM harus menyediakan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan. Sop ini untuk memudahkan masyarakat terkait tahap‑tahap resmi yang harus dilapisi dari front office sampai menerima produk layanan seperti SIM.

Kemudian, perlu tersedia dokumen standar biaya. Hal  ini dimaksudkan untuk menghindari adanya biaya‑biaya  diluar ketentuan. Jika yang dibawa tidak sesuai standar biaya maka itu masuk kategori suap.

Selanjutnya, perlu dokumen standar waktu. Hal ini untuk memastikan berapa lama sebuah dokumen itu diurus. Contoh Jika ketentuannya satu hari dalam pengutusan, tapi dalam penyelesaian telah dia hari maka, penyedia layanan telah Melanggar prosedur pelayanan.

Terakhir, perlu dokumen maklumat pelayanan. Ini satu ikrar dari penyedia pelayanan untuk tidak menerima suap, melayani dengan moral, berperilaku adil dan sopan dan mengutamakan kepuasan penerima layanan publik. Ketiga dokumen Itu harus di cetak dalam sebuah banner dan dipampang ditempat yg strategi agar mudah diketahui publik.

Jika ketiga dokumen itu dilanggar maka masyarakat sesuai Undang‑undang Nomor 25 Tahun 2009, bisa mengadukannya ke lembaga Ombudsman yang berada disetiap daerah.

Jika ada masyarakat yang merasa di persulit dengan berbagai bentuk pelayanan publik maka masyarakat bisa mengadukannya ke lembaga Ombudsman tersebut. Terlebih lagi jika terdapat pihak pemberi layanan dianggap mempersulit pelayanan maka bisa diadukan ke proses hukum.

Simak tayangan video di atas.

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved