Sosialisasi di Minsel, Pria Asal Inggris Ini Jatuh Cinta dengan Yaki
Pricilia Loijens, mengatakan hewan yang memiliki nama latin Macaca Nigra dilindungi oleh hukum dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1990, Peraturan Pemerin
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan wartawan Tribun Manado Fionalois Watania
TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Yayasan Selamatkan YAKI, menggelar Live Talk’s Show, yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), pimpinan Kecamatan Amurang Timur, Amuranggers, Polres Minsel dan masyarakat Minsel serta Awak Media Biro Minsel.
Acara ini digelar di X-Resto & Cafe Amurang pada Rabu (3/5/2017) sore sebagai sarana pembelajaran sebagai upaya untuk menyelamatkan hewan endemik Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dan perlindungannya dari kepunahan. Pricilia Loijens, mengatakan hewan yang memiliki nama latin Macaca Nigra dilindungi oleh hukum dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1990, Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.
“Dalam UU No. 5 tahun 1990, Pasal 21 mengatakan menangkap, memelihara, memburu, menjual, memindahkan, kulit atau tubuh, menyimpan utuh atau sebagian, hidup atau mati, akan dihukum 5 tahun penjara dan denda 100 juta bahkan lebih karena sedang dalam proses revisi untuk menaikan hukuman,” ujarnya.
Turut hadir pula seorang peneliti berkebangsaan Inggris Chaspian Johnson yang sudah sembilan bulan berada di Sulawesi Utara (Sulut), khusus untuk meneliti hewan yang memiliki ciri khusus berwarna hitam pekat dengan jambul dibagian kepala.
Dia mengaku kecintaannya terhadap Yaki membuat dirinya ingin terus berkampanye melindungi hewan yang hampir punah tersebut.
“Indonesia terkenal dengan surganya para peneliti. Oleh karena itu ketika ada tawaran pekerjaan untuk meneliti saya langsung terima dan ini merupakan kesempatan yang besar bagi saya untuk meneliti Yaki. Saya mencintai hewan yang satu ini. Namun sangat disanyangkan karena semakin hari populasinya semakin berkurang," katanya. Dikatakannya populasi Yaki di hutan Sulut ada sekitar 3000 hingga 5000.
Sebagian besar ada di Hutan Tangkoko, namun ada juga di Hutan di Kabupaten Minsel seperti di Hutan Gunung Sampiri Desa Kakenturan.
Populasi YAKI ini ada juga di Bacan Kabupaten Halmahera Selatan (Hamsel), tetapi populasinya sangat berbeda. Kemungkinan ada orang yang membawah ke daerah tersebut,” kata Chaspian Johnson.
Dia berharap agar kedepan kesadaran warga Minsel untuk melindungi Yaki semakin ditingkatkan. "Saya saja yang berasal dari Inggris mau dan ingin melestarikan Yaki. Seharusnya kita yang notabene berasal dari Sulut harus bangga dengan satwa yang satu ini karena hanya dimiliki didaerah ini," kuncinya. (Tiw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/grafis-yaki-sulut_20151003_091732.jpg)