Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Eksklusif

(CONTENT) Lima Hari Pak Haji Kumpulkan 1 Kg Emas, Ratusan Orang Cari Peruntungan di Tatelu

Bangunan kayu berukuran sekitar 2 x 2 meter persegi itu terlihat sederhana, berdiri tepat di depan pintu masuk area pertambangan di Desa Tatelu.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bangunan kayu berukuran sekitar 2 x 2 meter persegi itu terlihat sederhana, berdiri tepat di depan pintu masuk area pertambangan di Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Bangunan sempit itu memang terlihat sederhana, hanya terdapat meja kecil, dua kursi plastik, timbangan, dan tungku pembakaran. Namun, ternyata tempat itu sangat penting di areal pertambangan emas tersebut.

Bangunan itu tempat peleburan dan transaksi jual beli emas bernilai hingga ratusan juta rupiah.

Baru beberapa menit Tribun Manado  berbincang dengan Haji Rosadi (57), tempat itu, datang seorang pria membawa bongkahan emas.

Haji Rosadi langsung berdiri dari tempat duduk dan mengambil  bongkahan emas itu. Ia timbang, beratnya 3,1 gram. Kemudian ia mengambil batu khusus dan air keras untuk tes kadar emas.

"Kadarnya 60 persen, bagaimana? Harganya 310 (ribu rupiah) per gram  " ujar Haji Rosadi kepada si pria, Selasa (25/4/2017). Pria itu adalah satu dari ratusan penambang yang sering bertransaksi dengan Haji Rosadi.

Si penjual kemudian meminta tambah sedikit harga jual.  Keduanya kemudian saling tawar-menawar, dan akhirnya si pria setuju dengan tawaran awal.  Haji Rosadi mengambil uang pecahan  Rp 50.000 dari dalam tas, lalu menyerahkan kepada si pria.

"Saya menawarkan 1 gram Rp 310.000 untuk kadar 60 persen. Itupun saya hanya taksir saja, sebab emas yang dijual rata‑rata masih mentah," ujar Rosadi melanjutkan pembicaraan dengan Tribun.

Pria itu melanjutkan, rata-rata tiap hari bisa membeli emas dari penambang sekitar 200 gram. "Beberapa minggu lalu ada yang menjual hingga 310 gram uang, transaksi  hampir mencapi Rp 100 juta," ujarnya.

Emas yang dibeli dari para penambang harus dibakar kembali dalam suhu sekitar 200 derajat Celcius. Ini untuk memisahkan emas dengan benda lain  digunakan air keras. 

Untuk satu kilogram emas, proses peleburan bisa berlangsung lima sampai tujuh jam.

"Proses ini untuk mencari kemurnian emas, sebab yang dijual penambang biasanya masih mentah tak bisa langsung dijual di toko. Mereka suka membeli (emas) yang  sudah jadi (emas murni)," ujar Haji Rosadi.

Rosadi mengatakan, cukup mendapat keuntungan dari profesinya sebagai pengumpul emas. Namun demikian, seluruh emas yang ia peroleh dari para penambang ia simpan dulu. Jika sudah mencapai satu kilogram baru ia jual.

"Biasanya untuk mengumpulkan sampai 1 kg, hanya butuh waktu 5‑7 hari. Uang yang didapat Rp 400 juta, keuntungan bersih hampir sekitar Rp 10 juta," ujarnya.

Dari usahanya yang sudah ia geluti puluhan tahun itu, ia bisa menyekolakan tiga anaknya hingga sarjana. Ia bisa membeli rumah dan kendaraan, di Manado dan Makassar.

"Saya memang menjadi pembeli emas sejak dari tahun 1987 dengan berpindah‑pindah tambang mulai dari Pulau Obi, Halmahera Tengah, Palu, dan Tatelu," katanya.

Di Tatelu, ia baru sekitar lima tahun jadi pengumpul  emas. Ia merasa cukup beruntung berbisnis di Tambang Tatelu, selain kadar emasnya bagus, depositnya lumayan banyak.

Namun demikian, berkerja sebagai pengumpul tak selalu untung. Beberapa kali justru ia alami kerugian, karena salah menafsir kadar emas dan harga emas tak stabil.

Oleh karena itu, ia selalu rajin memantau harga emas. "Lewat SMS dengan cara ketik emas kirim ke 96788. Saya lakukan cek harga emas tiap hari sekitar pukul 10.00 Wita," ujar dia lagi.

Bertaruh Nyawa Dalam Lubang

Areal pertambangan emas di Tatelu, Minahasa Utara, adalah satu dari sejumlah tambang rakyat yang kondisinya sangat ekstrem.

Merupakan tambang dalam, atau underground mining yang memiliki kedalaman hingga lebih dari 100 meter. Saat ini sudah ratusan jalur, lubang ada di dalam tanah kawasan tambang tersebut.

Penggalian menembus bawah tanah pun dilakukan secara manual. Para penambang hanya membekali diri dengan cangkul, beliung dan alat lain seadanya.

Setiap kali turun ke lubang dan menggali tanah lebih dalam, saat itu pula mereka mempertaruhkan nyawa.

Menurut Ilham, seorang penambang, setiap bulan, satu lubang tambang bisa menghasilkan 1 ons emas. Pria yang sudah menggali puluhan lubang itu menjelaskan, tak mudah mendapatkan emas di dalam lubang.  Para penambang harus melalui sejumlah proses, dan itu kerja keras.

Untuk bisa mendapatkan butiran emas, setiap penambang harus menuruni lubang sempit, sekitar 1 x 1 meter persegi. Mereka harus turun hingga kedalaman 100 meter, di dalam tanah.

Lubang itu menjadi tempat mencari uang Ilham dan belasan rekannya di Desa Tatelu, Minahasa Utara.  

Lubang tersebut tiap hari harus mereka masuki dibantu mesin derek, yang dikaitkan ke ban truk berfungsi menaikan atau menurunkan pekerja.

Dinding tanah dalam lubang tambang hanya ditopang papan kayu, untuk mencegah longsor.

Setiap lubang ada lampu listrik, sebagai penerangan di bawah tanah dan selang panjang untuk menyalurkan udara. 

Menurut Agus, seorang penambang lainnya yang juga kepala grup penambang, setiap orang masuk satu persatu bergantian. Mereka wajib membawa palu, linggis, kaos tangan, pahat besi, karung, serta senter kepala.

Menurut Agus, setiap hari ia dan rekannya harus menggali dan memecah batuan di dalam tanah.

"Memang berat kerja cari emas, saya dan teman lainnya akan bekerja keras jika tanah bercampur batu. Tiap hari kami kumpulkan 15 karung,  sedangkan tanah lembek 30 karung. Kami kerja mulai pukul 11.00‑02.00 Wita," ujar Agus

"Risiko tertimbun tanah di dalam lubang jadi ancaman bagi kami para penambang," ujarnya.

Setelah batu-batuan dan tanah galian peroleh dari dalam lubang bawah tanah, dimasukkan dalam karung lalu ditarik ke atas. Batuan tersebut tak semuanya mengandung emas.

Material batuan dari dalam tambang akan dihargai Rp 28 ribu hingga Rp 58 ribu per koli (karung).

Selanjutnya, batuan itu dihancurkan menggunakan mesin giling hingga halus. Setelah itu, dialirkan ke dalam tong besar lalu didiamkan selama 48 jam.

Selanjutnya material yang sudah berubah wujud menjadi tepung berwarna kuning dikumpulkan. Kemudian diproses kembali selama selama 13 jam.

Kemudian,  material halus yang sudah bercampur air raksa dibakar. Dalam setiap bulan pemakaian air raksa, atau kerap disebut air perak,  mencapai 3 kilogram.

Setelah proses pembakaran, emas mulai terlihat kemudian baru dijual kepada pembeli atau pengumpul yang menjadi pembeli tetap para penambang.

Berapa besar uang yang diperoleh rata-rata penambang setiap bukan? Suryana, seorang penambang asal Jawa Barat mengaku, setiap bulan ia memperoleh pendapatan tak terlalu banyak, sekitar  Rp 2.500.000.

Beruntung,  biaya makan, pengobatan, dan tempat tinggal di biayai oleh bos pemilik lubang tambang tersebut. Satu lubang pemiliknya bisa sampai tiga orang.

Simak selengkapnya dalam tayangan video di atas.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved