Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Petani Lelema Bertaruh Nyawa saat ke Kebun

Petani Desa Lelema, Kecamatan Tumpaan, Minahasa Selatan bertaruh nyawa saat pergi dan pulang dari kebun.

Penulis: | Editor: Lodie_Tombeg
tribun manado
Sejumlah petani menaiki rakit bambu menyeberangi sungai Nimanga. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Petani Desa Lelema, Kecamatan Tumpaan, Minahasa Selatan bertaruh nyawa saat pergi dan pulang dari kebun. Mereka harus melewati ganasnya arus sungai Nimanga. Nyawa setiap saat terancam.

Sammy Lamia, petani Lelema bersiap untuk kembali pulang ke rumahnya. Sambil menunggu rakit yang didorong anak-anak dari sisi yang lain sungai, Sammy menggulung celana panjang yang dikenakannya.
Tali yang terbentang di atas sungai dipegangnya cukup kuat saat naik ke rakit untuk menyeberang.

Pantauan Tribun Manado, Kamis (14/4), arus sungai saat itu, tidak terlalu kencang. Rakit yang dibuat dari swadaya masyarakat sengaja diikatkan pada tali (kawat) laberang yang terbentang untuk mencegah rakit hanyut.
Untuk menahan tali laberang, warga mengikatkan pada kayu di sisi kiri dan kanan sungai.

Jika arus sungai deras, bisa berbahaya. Bisa dibilang para petani yang ke kebun bertaruh nyawa karena tali yang dipakai pernah putus serta tidak kuat menahan beban jika lebih dari lima orang yang menyeberang dan berpenggangan pada tali.

Sammy mengatakan, meski berisiko, namun dia terpaksa ke kebun untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. "Satu-satunya akses terdekat ke kebun hanya melewati sungai ini. Jika lewat jalur lain bisa memakan waktu hingga sehari," katanya.

Selama puluhan tahun berkebun, dia mengaku sudah sangat familiar dengan derasnya sungai Nimanga ketika cuaca ekstrim mendera.

"Jika sudah hujan, maka arus (sungai) akan semakin ganas dan ketinggian air melewati kepala orang dewasa. Sedangkan musim panas seperti ini tinggi air sampai pinggang. Sebelum ada rakit kami terpaksa berjalan untuk menyeberangi sungai," ujarnya.

Dikatakannya, kerinduan warga desa untuk memiliki jembatan sudah sangat lama.
"Hal ini didorong karena banyaknya korban yang hanyut. Hampir setiap tahun selalu ada korban dan tidak sedikit yang meninggal. Saya sendiri pernah hanyut. Beruntung masih bisa selamat. Meski tahu berenang, namun untuk menahan arus sekuat itu tidak akan bisa," terangnya.

Dia mengaku pernah beberapa kali menyaksikan korban yang hanyut dan terbawa arus sungai.
"Tahun ini juga sudah ada korban. Biasanya arus sungai mulai deras pada bulan Oktober hingga awal tahun," jelasnya.

Dia berharap agar pemerintah segera membangun akses jembatan agar keselamatan para petani lebih terjamin. "Saya dengar akan dibangun jembatan dana sudah dilakukan pengukuran. Semoga saja tidak hanya sekedar kabar namun dapat dibangun secepatnya," ujarnya.

Sebagai informasi diperkirakan hampir 80 persen warga Lelema bekerja sebagai petani. Setiap harinya mereka melewati sungai Nimanga untuk pergi pulang dari kebun. *

STORY HIGHLIGHTS
* Rakit yang dibuat dari swadaya masyarakat sengaja diikatkan pada tali (kawat) laberang yang terbentang untuk mencegah rakit hanyut
* Menahan tali laberang, warga mengikatkan pada kayu di sisi kiri dan kanan sungai
* Meski berisiko, namun petani terpaksa ke kebun untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya
* Satu-satunya akses terdekat ke kebun hanya melewati sungai ini. Jika lewat jalur lain bisa memakan waktu hingga sehari

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved