Rommy : Harga Turun Terpaksa tak Dipanen
Rommy Mamahit (44) petani Desa Mototompiaan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) meraup seratusan juta rupiah dalam sekali masa panen.
Penulis: Aldi Ponge | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Aldy Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Rommy Mamahit (44) petani Desa Mototompiaan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) meraup seratusan juta rupiah dalam sekali masa panen.
Berkat keuletannya bertani, Ia telah menjadi satu petani sukses di Boltim. Banyak orang mengenalnya sebagai pembeli dan petani hortikultura.
Rommy sudah puluhan tahun menjadi petani hortikultura. Bahkan sebelum dirinya menikah.
"Saya tanam beragam sayuran seperti kol, wortel, bawang batang, bawang merah, jahe, labuh jipang dan ketang," ungkapnya, pada Jumat (7/4).
Dia pun mulai menikmati hasil tani yang sangat menjanjikan. Dalam sekali panen seluruh kebun mencapai Rp 150 juta.
"Musim panas dua tahun lalu, sekali panen mencapai Rp 600 juta karena banyak tanaman petani yang mati," ungkap suami tercinta Sangadi Mototompiaan Linda Manampiring ini.
Penghasilan tersebut dari hasil penjualan batang bawang dan akar kuning. "Musim kemarau jadi kentang dan tanaman lain tak maksimal waktu itu," ucapnya.
Katanya menjadi petani tak mudah, diperlukan ketekunan dan kerja keras. Namun, petani tak perlu khawatir akan berurusan dengan hukum.
"Saya dapat membangun rumah, ada mobil, dan beli enam lahan kebun. Petani tak perlu takut dilaporkan karena korupsi," ungkapnya.
Dia mempekerjakan puluhan orang untuk mengolah kebunnya. Beberapa kebun warga pun disewanya. "Resiko bagi kami, jika harga bahan turun. Terpaksa kebun tak dipanen," jelasnya.
Kendati banyak perani mulai mengalihkan lahannya menanam cengkih. Ia tetap ingin menanam hortikultura.
"Hortikuktura dalam setahun bisa empat kali tanam dan panen," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/petani-boltim-bersihkan-lahan_20170407_235043.jpg)