Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Single Focus Reporting

(CONTENT) Revina 2 Jam Menunggu Angkot, Aksi Mogok Bikin Terlambat ke Kampus

Demo massal angkutan kota (angkot), taksi dan Angkutan Kota Dalam Provinsi, Kamis (23/3), melumpuhkan aktivitas dan sebagian perekonomian di Manado.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Demo massal angkutan kota (angkot), taksi dan Angkutan Kota Dalam Provinsi, Kamis (23/3), melumpuhkan aktivitas dan sebagian perekonomian di Kota Manado.

Pasalnya,  karyawan swasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS), anak sekolah dan mahasiswa kesulitan memperoleh angkutan.

Cicilia Clara Egeten, mahasiswa satu perguruan tinggi di Manado mengaku, dia kesulitan ke tempat kuliah pada pukul 09.30 wita, kemarin.

''Saya biasa dari Teling naik angkot (Mikro) ke pusat kota (Pasar 45), kemudian naik Mikro trayek Kampus. Tapi, saat mau ke Kampus ke kemarin, ternyata semua pada mogok. Terpaksa minta tolong tetangga yang punya sepeda motor untuk antar ke Kampus, meski pun sudah terlambat, '' ujar Cicilia, Kamis.

Hal sama dialami beberapa siswa Kelas XII SMA Pertiwi Manado yang dua jam menunggu Mikro, namun tak memperoleh angkutan.''Memang so dengar-dengar para sopir Mikro ada demo.

Cuma torang tetap coba terus menunggu, '' ujar Bunga Revina Palit.

Hendrik juga mengaku berharap bisa pulang cepat ke rumah untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional.

''Tapi ini sudah berjam-jam belum dapat angkutan. Padahal lagi mau persiapan ujian di rumah, '' ujar Hendrik.

Terpantau, kemarin, 19 trayek Mikro di Manado, Taksi dan AKDP sepakat tak beroperasi hingga sore.

"Kami tidak mencari sebagai protes atas beroperasinya Go‑Jek, Go‑Car dan Taksi Gelap di Manado," ujar Jefry Surentu, Wakil Ketua Basis 45-Kairagi yang ditemui saat sedang menjelankan aksi mogok.

Jefry mengatakan, kehadiran angkutan yang diakses via online itu sangat mengurangi pendapatan.

Sebelum jasa angkutan itu hadir setiap hari sopir mikro bisa meraup penghasilan Rp 400 ribu lebih dan mendapat gaji Rp 100 ribu lebih, kini penghasilan menurun drastis.

"Pendapatan Rp 250 ribu dengan gaji hanya Rp 50 ribu. Pokoknya penghasilan menurun drastis, dan ini sangat menyulitkan kami," keluhnya.

Para sopir angkot, AKDP dan taksi mulai berkumpul di kompleks KONI Sario pukul 09.00 wita.

Setelah itu para sopir ini menuju ke Kantor Gubernur dengan tujuan menyampaikan aspirasi mereka ke Gubernur Sulut, Olly Dondokambey.

John Tangkilisan, sopir taksi mengatakan, hadirnya Go‑Jek membuat penumpang yang memilih taksi sebagai angkutan berkurang drastis.

"Di kawasan Megamas saja mereka (Go‑Jek) sudah delapan kali dapat penumpang, sedangkan kami belum dapat penumpang," ujar John mengeluhkan.

Sebelum ada Go-Jek dia mengaku bisa mendapat penghasilan Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu, saat ini tidak lagi.

''Jadi kami minta mereka diberhentikan operasinya, '' ujarnya.

Aksi mogok para sopir ini menyebabkan penumpang di beberapa titik terlantar.

Misalnya di Tuminting, Sumompo, Cereme, Wawonasa, Patung Kuda Paal Dua dan Yos Sudarso.

Penumpang berjam-jam berdiri di pinggiran jalan tanpa ada angkutan yang membawa ke tujuan.

Hal ini juga dikeluhkan, Erna Denga.

''Saya sudah hampir satu jam berdiri di sini sambil bawa belanjaan. Tapi angkutan kotanya ndak datang-datang. Untung ada bus Trans Kawanua milik pemerintah datang menjemput," ujar Erna Denga di Jalan Yos Sudarso.

Erna menyesalkan adanya aksi mogok ini yang membuat mereka kesulitan mendapatkan angkutan untuk ke tempat kerja dan aktivitas lainnya.

''Semoga saja aksi ini tidak berlanjut hingga besok (hari ini). Kasihan anak saya yang mau ke sekolah. Beruntung saat mau ke sekolah masih ada angkot, '' ujarnya.

Sedangkan Bella Papuling, karena terlalu lama menunggu terpaksa memilih untuk naik gojek online.

"Saya sudah lama menunggu, hingga kaki pegal, angkutan kota tak kunjung datang. Terpaksa menghubungi gojek online," kata Bella Papuling.

Dia mengatakan, memilih Go-Jek online karena memang tak ada pilihan lain.

Apalagi dia menginginkan cepat pulang ke rumah.

Amelia Bawole, mahasiswa Universitas Dela Salle mengatakan, dia hampir terlambat ke Kampus lantaran tak ada angkutan.

"Memang sudah tahu dari teman hari ini (Kamis) akan ada demo sopir angkutan, tetapi belum percaya seratus persen," ujar Amelia.

Lanjutnya, beruntung ada kakak yang datang dan mengantar. Mulai mata pelajaran pukul 10.30 Wita, sampai di kampus 10.40 wita.

Tetapi dosen belum ada.

Vicky Minta Dishub Evaluasi dan Kaji

Demi meminimalisir dampak mogok yang dilakukan sopir angkot, AKDP dan taksi, maka Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Manado bekerja sama dengan kepolisian dan TNI telah menyiapkan 20 unit Damri dan 5 unit mobil Patroli Polisi Pamong Praja (Pol PP), untuk mengangkut penumpang.

Kadis Dishub Kota Manado Muhammad Sofyan mengatakan, pihaknya sejak malam, Rabu (22/3), sudah mengetahui akan adanya rencana demo para sopir, sehingga mereka sudah menyiapkan Damri dan melakukan koordinasi dengan polisi dan TNI mengantisipasi ketiadaan angkutan.

Wali Kota Manado Vicky Lumentut meminta agar pendemo menyampaikan aspirasi dengan aman dan damai.

"Semua masyarakat berhak menyampaikan aspirasi, jadi silakan sampai aspirasi secara aman dan damai tanpa menganggu aktivitas masyarakat lain," ujarnya.

Vicky menegaskan, terkait ojek online dan mobil online di Manado, sepanjang ada peraturan yang melindungi Pemkot harus menghormati apalagi jika ada undang‑undang di bidang lalulintas.

"Jika tidak memiliki izin, maka Pemerintah akan menegakkan aturan secara hukum karena negara hukum," terangnya.

Dia mengaku sudah meminta Dishub untuk melakukan evaluasi dan kajian.

"Saya sudah perintah dinas terkait yakni Dishub agar melakukan evaluasi dan kajian, jika memang tidak memiliki izin maka akan ditertipkan," ujar Vicky.

Amatan Tribun Manado di jalan sejak pagi, kemarin, banyak penumpang terlantar karena semua kendaraan umum melakukan aksi damai.

Jalanan Kota Manado yang biasa padat dan ramai dengan kendaraan, ini terlihat lengang sesekali ada angkot terlihat tapi tidak beroperasi.

Para penumpang di Paal Dua menumpuk karena tidak ada angkot, nanti beberapa saat baru ada Damri bahkan mobil bus dalmas turut mengangkut penumpang.

Hari Ini Normal Lagi

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Utara, Joi Oroh menegaskan bahwa keberadaan taksi gelap yang beroperasi di sejumlah titik di Kota Manado tetap diawasi.

"Dalam dua bulan ini sesuai Undang‑undang Nomor 22 terkait penindakan kendaraan hanya pada angkutan umum di dalamnya perizinan, buku KIR dan kendaraan di terminal itu kewenangan kami. Untuk taksi gelap tidak berkewenangan tahan SIM dan STNK, hanya arahkan mereka masuk dalam angkutan carter atau sewa, harus resmi lalu berbadan hukum," jelas Oroh, di ruang kerja Asisten III, Kamis kemarin.

Untuk angkutan online, menurut dia, sehari sebelum aksi demo sudah melakukan pertemuan dengan Dishub Kota Manado, didapati tidak ada pelaporan terkait beroperasinya mereka.

"Dalam Permenhub Nomor 32 diatur angkutan online bisa operasi dengan membentuk badan usaha dan badan hukum. Terjadi polemik panjang dalam Permen itu sehingga Kemenhub lakukan revisi Permen itu akan diberikan kewenangan kepada Gubernur terkait kuota dan tarif, sementara izinnya masuk dalam angkutan sewa khusus," jelasnya.

Menyambut revisi Permen itu, pihak Dishub Sulut, Polda Sulut, stakeholder terkait serta masyarakat akan bersama membahas ini ketika nanti ditetapkan.

Akan mencari formula untuk pengoperasiannya di Sulut sambil tunggu petunjuk dari Kementerian perhubungan terkait tarif dan kuota.

"Supaya ada persaingan sehat. Tarif agar ada rasa kesetaraan akan diatur dalam waktu dekat ini," tambahnya.

Sehari sebelum demo, Gubernur Olly Dondokambey sempat menanggapi banyaknya penolakan dari angkutan umum terhadap Gojek dan Gocar.

Dia menyebut penolakan itu adalah wajar.

"Setiap usaha baru, usaha lain turun, komunikasikan dengan baik agar tidak meresahkan masyarakat," pesan Olly.

Sementara itu, para pengusaha dan sopir yang

berdemo mengaku kecewa karena tak bisa bertemu Gubernur Olly Dondokambay atau Wagub, Steven Kandouw.

Mereka ditemui Assisten III, Roy Roring dan Kadishub, Joi Oroh.

"Atas nama pengusaha dan pengemudi se Sulut orasi dan tuntutan kami tidak diterima Pemerintah Provinsi Sulut, kami menyesal," kata perwakilan aksi, Semual Lanongbuka.

Semual yang juga menjabat ketua kerukunan sopir angkot se-Kota Manado menilai Pemerintah Provinsi tidak peduli terhadap rakyatnya yang ingin ketemu untuk menyampaikan tuntutan.

Meski tak diterima Gubernur atau Wakil Gubernur, dia mengajak semua yang mendemo berterima kasih sambil panjatkan doa.

"Ke depan kami akan turun demo dengan kekuatan lebih banyak lagi dan full. Besok (hari ini) kami tetap kembali beroperasi seperti biasanya," tukasnya.

Simak selengkapnya dalam tayangan video di atas.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved