Single Focus Reporting
(CONTENT) Hujan 2 Jam Manado Tergenang
Hujan kurang lebih dua jam di Kota Manado dan sekitarnya langsung memicu terjadi luapan air di beberapa lokasi yang memang rawan banjir.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Hujan kurang lebih dua jam di Kota Manado dan sekitarnya langsung memicu terjadi luapan air di beberapa lokasi yang memang rawan banjir. Bahkan di Kelurahan Ranomuut dan Tanjung Baru terjadi longsor, Senin (20/3).
Beberapa lokasi yang banjir sesaat itu antara lain, kawasan Sario Tumpaan, Paal Dua, Tanjung Batu, Perkamil hingga Bahu. Lokasi lainnya yang airnya ikut meluap antara lain, Kelurahan Taas, sekitaran Fisip Unsrat, Jalan Bethesda, sebagian Kelurahan Ranotana dan beberapa titik di pusat kota lainnya.
Ferdy Sinadia, warga Kelurahan Taas lingkungan IV Kecamatan Tikala Kota Manado mengaku tak sempat menyelamatkan barang-barangnya saat air naik dan banjir.''Air naik dan banjir terjadi sangat cepat. Saya sudah tak sempat mengeluarkan dua unit printer dan kulkas, '' ujar Ferdy, kemarin.
Ferdy mengatakan, hujan terjadi cukup deras. ''Karena itu, meski hujan hanya dua tiga jam air sudah meluap di mana-mana, '' ujarnya.
Baginya, banjir kemarin di Taas merupakan terparah sejak tahun 1980. Dulu banjir pernah melanda Kelurahan Taas Lingkungan I hingga VI. Begitu banjir warga berusaha mencari lokasi ketinggian yang aman dari banjir. "Pemerintah harus melakukan normalisasi sungai dan saluran air seperti di Jakarta yang dilakukan Gubernur Ahok. Sungai di Taas telah terjadi penyempitan akibat bangunan rumah," ujar Ferdy.
Sementara itu, beberapa ruas jalan utama di Kota Manado terjadi genangan air yang memicu kemacetan di pusat kota. Di Sario Tumpaan misalnya, kemacetan panjang terjadi di ruas Jalan Ahmad Yani, akibat genangan air hasil luapan sungai kecil di tempat tersebut.
Allan, warga Kecamatan Wanea bahkan harus menenteng sepatunya akibat tingginya genangan air yang harus ia lewati."Tadi baru pulang kerja, tak tahu kalau jalan ini tergenang. Bahkan bukan cuma di jalan beberapa lorong didalamnya juga tergenang," ujarnya.
Sedangkan Arvando Lawi, mahasiswa Unsrat Manado terpaksa harus mengamankan motornya dari tempat kost. ''Kalau tidak diamankan, saat banjir tak bisa bikin apa-apa lagi, '' ujarnya.
Dia pun berhasil mengamankan sepeda motor, barang elektronik dan skripsi. ''Saya takut skripsi hilang atau kena basah, '' ujarnya.
Kabar lain menyebutkan, banjir deras terjadi juga di Kelurahan Tanjung Baru Lingkungan I, Kecamatan Wanea.
"Disini kalau hujan deras pasti selalu tergenang. Dari tahum ke tahun tidak ada perubahan," aku dia.
Sementara itu, Pingkan, warga Manado meminta Pemprov Sulut bertindak tegas dan meminta komitmen masyarakat dalam pembangunan.
"Jangan hanya membuang slogan cerdas, dan sebagainya. Namun bebaskan dulu masyarakat dari teror banjir maupun genangan air ini," ujarnya.
Kapolresta Manado, Kombes Pol Hisar Siallagan mengimbau agar masyarakat tetap berhati‑hati dalam kondisi cuaca yang seperti ini.
"Dalam cuaca seperti ini saya imbau agar masyarakat jangan mendekati lokasi muara sungai apalagi anak‑anak agar supaya tidak ada korban jiwa," tandasnya.
Terpisah Noldy Liow, Kepala Badan Penangguhan Bencana Daerah (BPBD) Sulut menerangkan, dari data sementara yang dihimpun dampak dari hujan deras yang mengguyur Kota Manado terjadi banjir dan longsor disejumlah wilayah (lihat grafis). "Longsor enam titik dan banjir sembilan titik dengan korban luka sudah di bawa ke Puskesmas terdekat untuk dilakukan tindakan medis," kata Liow.
Maya Menyeberang Pakai Rakit
Maya Tatahupias (34), warga Taas Lingkungan 3 hanya mampu mengelus‑elus dada. Ia pun mencoba bernafas normal.
Kepada Tribun Manado, Senin (20/3), Maya mengaku lega sudah bisa menyeberangi banjir dengan rakit buatan. Ia mengaku rakit yang dipandu beberapa pemuda itu bergoyang kuat."Aliran airnya deras. Rakit bergoyang," ujarnya.
Banjir itu memang telah memutuskan jalan antara Lingkungan 3 dan Lingkungan 1 kelurahan tersebut. Jalan yang biasanya dilalui pejalan kaki, dan kendaraan bermotor itu tidak bisa dilewati karena air mencapai dada orang dewasa.
Sherly Pogaga, warga Kelurahan Taas mengaku banjir terjadi saat pukul 13.00. Hujan deras sudah dimulai sejak 11.30. "Banjir seperti ini terjadi pada tahun 2014. Air mencapai pinggiran tanah yang agak tinggi di depan rumah," katanya.
Mercy Sorongan, staf Kecamatan Tikala mengatakan di kelurahan Paal 4 ada beberapa rumah yang terkena bencana tanah longsor. Beberapa di antaranya rusak berat
"Lingkungan enam ada dua rumah rusak berat, lingkungan empat ada dua rumah. Sedangkan lingkungan tiga ada satu rumah. Ada 22 rumah mengalami kerusakan sedang. Terkena banjir 53 rumah," ujarnya melalui aplikasi Whatapps.
Korban luka katanya empat orang. Yang dibawa ke Rumah Sakit ada 3 orang. "Semua sudah ditangani. Semua langsung pulang," katanya.
Bantuan katanya sudah diberikan oleh dinas sosial. Bantuan diserahkan langsung kadis dan kabid.
Sembarang Keluarkan Izin
(Oleh: Veronica Kumurur, Dosen Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota)
Hampir setiap hujan Kota Manado selalu banjir. Hujan sedikit saja sudah tergenang, longsor dan lainnya. Kondisi ini membuat warga kota tak nyaman. Hujan sedikit saja semua langsung was-was.
Hal ini disebabkan terjadinya perubahan iklim. Tak hanya itu, hampir setiap wilayah saat ini rentan terjadi kerusakan lingkungan. Jadi yang terpenting saat ini harus tingkatkan daya dukung terhadap lingkungan hidup. Karena memang daya dukung terhadap lingkungan sudah menurun.
Penyebabnya adalah pembangunan pemukiman atau perumahan, perkebunan hingga pertambangan yang tidak memperhitungkan arealnya.
Contoh pembangunan perumahan di hulu yang sebenarnya merupakan daerah resapan air dan didataran tinggi. Ini sebenarnya tak bisa dilakukan untuk menjaga mutu air.
Adanya lokasi perkebunan baru dengan menebang pohon juga memicu terjadinya banjir dan longsor. Hal-hal ini yang menyebabkan air tidak meresap sehingga terjadi erosi, partikel tanah lewat ke sungai terjadi pendangkalan sungai.
Meski dilakukan upaya pengerukan tetap akan terjadi erosi jika kondisi lokasi hulu sungai sudah dibangun perumahan dan dijadikan lahan perkebunan.
Masalah ini bukan hanya menjadi perhatian pemerintah melainkan seluruh masyarakat. Hal lainnya yakni, membuang sampah tak bisa sembarangan. Karena sejak lama telah diingatkan ke seluruh warga agar tidak membuang sampah sembarangan. Pemerintah juga harusnya tidak dengan mudah mengeluarkan izin pembangunan perumahan, perkebunan dan pertambangan.