Kedelai di Bolmong Mulai Ditinggalkan
Tanaman kedelai punya potensi untuk tumbuh di Bolaang Mongondow. Namun sayang, tanaman ini tak lagi eksis di Bolmong.
Penulis: Finneke | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Tanaman kedelai punya potensi untuk tumbuh di Bolaang Mongondow. Namun sayang, tanaman ini tak lagi eksis di Bolmong.
"Minat petani di sini kurang karena pasar tak menjamin. Produksinya rumit, harga per kilogram hanya Rp 4 ribu. Benihnya satu kilo Rp 15 ribu," ujar Kepala Bidang Bina Produksi Tanaman Pangan, Holtikultura dan Aneka Tanaman, Dinas Perkebunan, Sahrul Dossa, Jumat (3/3).
Di Bolmong, olahan kedelai ini umumnya tahu dan tempe. Namun konsumsi tempe dan tahu di Bolmong tak terlalu banyak. "Kan warga bukan orang Jawa yang banyak. Kalau kopi yah itu sangat sedikit," ujarnya.
Kedelai memang berbeda jauh dengan jagung di Bolmong. Pasaran jagung menjanjikan di Bolmong. "Jagung perawatan tak rumit, harga sudah bagus. Makanya produksi jagung banyak," tuturnya.
Sahrul menjelaskan, sekitar tahun 1988 hingga tahun 2010, kedelai masih eksis. Ada sekitar 350 hektar kebun kedelai yang tersebar di sembilan kecamatan di Bolmong.
"Sekarang produksinya menurun jauh. Data terakhir tahun 2016, luas tanam kedelai 3,096 hektar, luas panen 3,847 hektar dan produksi mencapai 4,993 ton," jelasnya.