Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Nelayan Mengeluh Banyak Ponton di Laut

Sejumlah nelayan di Kota Bitung dibuat resah dengan hadirnya kembali ponton di perairan lepas Bitung.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN MANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
ARUNGI SELAT LEMBEH - Peserta lomba renang Selat Lembeh, Senin (10/10), mencoba garis finis. Dari 54 peserta hanya belasan saja yang berhasil capai finis. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Sejumlah nelayan di Kota Bitung dibuat resah dengan hadirnya kembali ponton di perairan lepas Bitung. Adanya ponton itu bakal mempersulit upaya mereka mencari ikan.

"Semakin banyak ponton yang dipasang di laut," kata Haryanto, seorang nelayan, Kamis (23/2).
Dikatakannya, ponton tersebut kebanyakan berada di antara pulau Lembeh dan sebuah pulau di laut Maluku.

Namun ada pula ponton yang dipasang di sekitar perairan Bitung.
Ia menduga ponton tersebut dipasang oleh kapal suruhan perusahaan. "Indikasinya kuat ke situ," kata dia.
Muksin Jurumudi, Ketua Kelompok Nelayan Ambar Laut Girian Bawah mengatakan, ponton itu hidup lagi di awal 2017.

Ponton itu lenyap sejak awal tahun lalu. Dikatakannya, adanya ponton itu telah mempengaruhi hasil tangkapan ikan nelayan.
"Ikan kembali lagi ke sana, menyebabkan kami harus lebih ke tengah lagi cari ikan, padahal dulunya cari ikan hanya di pesisir," kata dia.

Sebut dia, saat ini, sudah banyak nelayan jual perahu lampu karena ikan sudah tak banyak di tepi.
Dia meminta agar pemerintah menindak ponton itu sebelum menimbulkan akibat lebih parah.
"Harus dilarang karena setahu kami moratorium masih berlaku," ujar dia.
Jeksen, nelayan lainnya di Likupang menyatakan, ponton juga mulai marak di wilayahnya.

Disebutnya, kapal pajeko dari Manado yang membawa ponton itu. "Di Likupang juga banyak seperti itu," kata dia.
Kepala PSDKP Bitung Sumono Darwinto mengaku terkejut dengan kabar itu. Ia janji menelusurinya. "Saya akan lapor ke pimpinan
serta koordinasi dengan dinas, apa betul ada itu," ujar dia.

Darwinto membeber, setiap ponton yang didirikan harus berizin. Izin dikeluarkan berdasarkan Permen. "Kita akan selidiki, kalau benar maka kami akan tertibkan, di Morotai kami baru saja adakan penertiban ponton," kata dia.

Di Kelurahan Batu Putih, para nelayan resah dengan kemungkinan masuknya tambang di wilayah mereka. Kekhawatiran mereka tambang bakal mencemari lautan.
Nasir, nelayan batu putih mengatakan, tambang semakin dekat ke wilayah batu putih.

"Daerah sekeliling sini sudah masuk wilayah tambang," kata dia. Dia membeber, sejumlah wilayah di batu putih ditengarai mengandung emas. Wilayah emas tersebut sudah di bidik investor. "Celakanya pemiliknya bukan warga sini," kata dia.

Menurut Nasir, warga pernah melakukan penolakan besar-besaran beberapa waktu lalu kala munculnya isu tambang. "Kami pun siap demo besar -besaran jika tambang masuk kemari," kata dia. Nasir mengatakan, tambang bakal merusak lautan hingga mematikan sektor perikanan di Batu Putih. *

STORY HIGHLIGHTS
* Ponton tersebut kebanyakan berada di antara pulau Lembeh dan sebuah pulau di laut Maluku
* Banyak nelayan jual perahu lampu karena ikan sudah tak banyak di tepi
* Kapal pajeko dari Manado yang membawa ponton itu

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved