Ini Pandangan Stefanus Liow soal Rencana Penerapan Full Day School

Namun demikian, Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI berpandangan bahwa penerapan Full Day School perlu mempertimbangkan beberapa catatan sebel

 Ini Pandangan Stefanus Liow soal Rencana Penerapan Full Day School
Istimewa
Senator DPD RI asal Sulut, Ir Stefanus BAN Liow

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menggodok sistem Full Day School bagi siswa. Tujuannya membentuk karakter anak bangsa sejak dini sekaligus menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Namun demikian, Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI berpandangan bahwa penerapan Full Day School perlu mempertimbangkan beberapa catatan sebelum diterapkan.

Anggota Komite III DPD RI asal Sulawesi Utara, Ir Stefanus BAN Liow menguraikan pandangan Komite III DPD RI terkait sistem ‘sekolah sehari penuh’ ini. Ada sejumlah pertimbangan yang harus diacu bila sistem ini akan diterapkan.

Pertama, kata Liow, Full Day School membutuhkan sarana prasarana belajar memadai, area sekolah yang luas lengkap dengan sarana olahraga, kesenian dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kedua, media belajar, termasuk buku pelajaran di perpustakaan dan perpustakaan digital yang ter-update.

“Ketiga, guru yang profesional dan berkualitas, keempat, kemampuan manajemen administrasi dan keuangan sekolah yang mampu menghadirkan guru selama siswa di sekolah. Ini menyangkut kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan lainnya. Sebab mereka akan bertugas sehari penuh di sekolah,” ujar Liow, sebagaimana rilis yang dikirim ke Tribun Manado, Sabtu (24/12).

Kemudian, kelima, sekolah harus menyediakan ruang istirahat—termasuk untuk tidur—bagi siswa. Katanya, Full Day School membutuhkan energi ekstra dari siswa dan keenam, sekolah harus mampu menyediakan kantin yang menyediakan makanan sehat, menjamin pemenuhan nutrisi harian siswa.

 Persoalan lainnya, Indonesia apabila ditinjau dari letak geografis, kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang sangat beragam di seluruh Nusantara, apakah akan memungkinkan diimplimentasi program tersebut.

“Misalnya di pedesaan, dimana anak anak-anak sepulang dari sekolah harus membantu orangtuanya bekerja di kebun, sawah dan tempat usaha lainnya. Program full day school akan menyebabkan anak-anak sekolah di pedesaan akan dihadapkan pada pilihan yang sulit, “ ujar Ketua Komisi Pria/Kaum Bapa (P/KB) Sinode GMIM ini.

Kondisi ekonomi keluarga yang masih kekurangan membuat banyak anak-anak yang harus bekerja membantu orangtua. Sekolah-sekolah pesisir, pegunungan, perkotaan, pedesaan dan di pedalaman memiliki permasalahan masing-masing.

 “Kondisi ekonomi keluarga dari anak-anak didik yang kebanyakan relatif belum sejahtera dipastikan akan menjadi kendala juga secara langsung atau tidak langsung dalam mengimplimentasikan program Full Day School,” katanya seraya menegaskan, pemerintah perlu melakukan kajian matang sebelum menerapkan Full Day School.

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved