Empat Jurnalis Raih Beasiswa Liputan Isu Lingkungan dari AJI Manado
Empat jurnalis media online menerima beasiswa liputan isu lingkungan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Fernando_Lumowa
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Empat jurnalis media online menerima beasiswa liputan isu lingkungan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado.
Empat jurnalis tersebut Joice Bukarakombang (Antara.com), Jeane Rondonuwu (Sulutdaily.com), Ferdinand Putong (Gatra) dan David Eka Setiabudi (Bisnis Indonesia).
Empat usulan terbaik liputan isu lingkungan empat jurnalis ini terpilih dari 20 jurnalis peserta Training and Fellowship Jurnalisme Lingkungan dan Masa Depan Media Online yang digelar AJI di Hotel Gran Central Manado, Selasa (15/11).
Yoseph E. Ikanubun, Ketua AJI Manado mengungkapkan, pelatihan yang dikhususkan bagi jurnalis media online serta pemberian beasiswa ini sebagai bagian dari program Journalism on Resource Politics (Jurnalisme Lingkungan).
Kegiatan yang sedang dilaksanakan AJI Manado selang Juni-Desember 2016 ini disokong donor Development and Peace (DnP) Canada. "Sedikitnya ada 21 kegiatan yang kami gelar dalam rangka meningkatkan kapasitas jurnalis dalam rangka keberpihakan pada lingkungan," ujarnyt=a
Dan, sebagai rangkaian dari pelatihan dan beasiswa liputan ini, AJI Manado akan menggelar Journalist Award khusus untuk liputan bertema lingkungan terbaik. Pesertanya terbuka untuk umum, bukan hanya peserta pelatihan tadi.
Training and fellowship ini berlangsung menarik karena menghadirkan para panelis sekaligus praktisi. Mulai dari Hanny Sumakul yang membawa materi Keberadaan Media Online di Era Digital.
Lalu, Agust Hari (AJI Manado) yang mengulas Media Online: Etika, Regulasi dan Bisnis serta Ronny Buol (AJI) Manado yang mengurai Peran Media Online Menanggapi Persoalan Lingkungan di Sulut.
Sumakul menjelaskan, keberadaan media online bak jamur di musim hujan. Tapi tantangan utamanya bagaimana menghadirkan perusahaan media yang sehat.
"Tantangan utama media online, bagaimana menghidupi karyawan, mengembangkan usaha tanpa bergantung sepenuhnya pada dana-dana kerja sama dengan pemerintah," ujarnya.
Kalau Agust Hari lebih banyak membahas bagaimana menyeimbangkan antara fungsi media sebagai alat kontrol sosial dengan independensi demi kebebasan pers, Ronny Buol mengingatkan bahwa berita lingkungan bisa mencangkup banyak soal.
Dari persoalan mikroorganisme sampai dengan alam semesta. "Bicara jurnalisme lingkungan sangat kompleks. Itu tak melulu soal bencana alam, konflik akibat pertambangan dan perebutan lahan akibat pemanfaatan SDA," ujar jurnalis Kompas.com ini.
Joice Bukarakombang (Antara) mengaku, pelatihan tersebut sangat menarik. Ia sepakat bahwa isu lingkungan itu isu sangat seksi.
"Hanya sebagian kecil dari jurnalis yang mencintai isu lingkungan, padahal kita hidup di lingkungan. Untuk itu, tugas kita sebagai pers memperhatikan lingkungan," katanya.(ndo/rls)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pelatihan-jurnalis-lingkungan-media-online-aji-manado_20161115_231005.jpg)