Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Guru Autis di Sekolah Luar Biasa

Olga Manopo bernazar kepada Tuhan untuk melayani anak autis di Yayasan Growing Children Sekolah Luar Biasa AGCA center Jalan Pumorouw No. 50 Banjer.

Penulis: | Editor:

Laporan Wartawan Tribun Manado Vemdi Lera

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Olga Manopo bernazar kepada Tuhan untuk melayani anak autis di Yayasan Growing Children Sekolah Luar Biasa AGCA center Jalan Pumorouw No. 50 Banjer, Manado.

Sejak didirikan pada 2005, sekolah autis ini telah berkomitmen untuk melayani anak autis, termasuk komitmen para guru seperti Olga.

Berkat kerja keras dengan penuh semangat yang diwarnai suka dan duka, yayasan ini akhirnya bisa beroperasi secara resmi pada 2006.

Olga kini sudah bisa bernafas lega, karena murid autis di Manado sudah berjumlah 90 orang, namun yang aktif sesuai daftar hadir tiap hari 45 orang, yang lain kadang-kadang datang, hanya sebulan sekali.

Meski siswanya sudah mulai banyak, pihaknya merasa masih belum puas, karena di luar sana masih banyak anak autis yang masih belum terjangkau.

"Kami pahami kebanyakan orang tua masih malu untuk memasukan anak mereka di sini," kata Olga Manopo, Selasa (1/11).

Lanjut dia, hal ini sangat disayangkan, karena berkaitan dengan masa depan anak-anak, nantinya mereka akan dikucilkan oleh temannya.

Menurut Olga, yayasan ini memiliki 16 guru pengajar, Enam diantarannya guru PNS sudah termasuk kepala sekolah, sisanya guru honorer.

Dia mengimbau masyarakat yang ingin berkonsultasi mengenai kondisi anaknya untuk agar bisa datang dan tidak dipunggut biaya.

Untuk mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu, namun mau bersekolah akan dibantu, asalkan mempunyai keterangan kurang mampu.

Seorang guru bernama Ritha menceritakan suka dan duka yang dirasakannya saat mengajar anak autis selama 5 tahun.

Dia tak bisa memungkiri kadang muncul emosi tapi harus menahan saat mengajar, karena sering dipukul, dicakar, bahkan ditendang oleh murid.

"Sehingga pernah sekali saya berinisiatif untuk memakai skindeker di betis, agar sewaktu ditendang aman," kata Ritha

Semuanya dilakukan dengan sukacita dan hanya berdoa kepada Tuhan, agar diberi kekuatan dalam mengajar mereka.

Tambahnya ada kejadian waktu lalu Murid autis baru meronta sampai semua inventaris sekolah hancur, karena tidak mau untuk diajar.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved