(FOTO) Mereka yang Tinggal di Hilir Danau Tondano
"Sudah tidak ada lagi tempat tinggal selain di sini," ujar Chres Nelwan, warga Tanjung Ternate.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Banjir dan longsor menjadi ancaman bagi warga di Kota Manado. Pesatnya pembangunan Manado dan sekitarnya, bisa jadi alamat buruk, bila tidak memerhatikan kelestarian lingkungan hidup.
Berada di hilir Danau Tondano ditambah dengan topografi yang berbukit-bukit membuat risiko tersebut menjadi kian nyata. Jika pemerintah dan warga abai, risiko serius harus dihadapi. Bukan hanya kehilangan secara materil, secara sosial pun kian besar.
Kepala Pusdiklat Penanggulan Bencana RI Bagus Tjahjono mencontohkan bencana yang terjadi di Garut. "Bencana di sana penyebabnya hanyalah sampah yang menyumbat di bendungan," kata dia saat Asean Comittee On Disaster Meeting (ACDM) di Manado, Selasa (11/10/2016).
Kesadaran masyarakat adalah hal mutlak. Tanpa itu, bencana sulit dijauhkan. "Masyarakat khususnya di sekitar sungai harus disadarkan," kata dia.
Pada Tribun Lensa kali ini, fotografer Tribun Manado Andreas Ruauw memotret aktivitas masyarakat di daerah aliran sungai (DAS) Tondano. Foto-foto diambil di Kelurahan Ternate Tanjung Lingkungan III, Kecamatan Singkil.
Daerah ini termasuk rawan banjir dan longsor. Namun warga banyak mendirikan rumah di tepi sungai. Mereka bukannya tidak khawatir dengan keadaan tersebut, namun mereka mengaku tak ada pilihan.
"Sudah tidak ada lagi tempat tinggal selain di sini," ujar Chres Nelwan, warga Tanjung Ternate. (art/eas/suk)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tribun-lensa_03_20161013_152157.jpg)



