Tribun Manado History

Cagar Budaya Gereja Tua GMIM Malak. Dulu, Anak-anak Berburu Koin di Kolongnya

Gereja tua Matungkas Laikit punya nilai sejarah besar.

Cagar Budaya Gereja Tua GMIM Malak.  Dulu, Anak-anak Berburu Koin di Kolongnya
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW
Gereja Tua Malak di Desa Laikit Minahasa Utara 

Laporan wartawan Tribun Manado Ferdinand Ranti

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Gereja tua Matungkas Laikit punya nilai sejarah besar. Selain itu, arsitekturnya yang unik menambah nilai sehingga bangunan sepuh ini patut dilestarikan.

KEBERADAAN gereja ini tak lepas dari sejarah negeri Matungkas dan Laikit. Dulunya dua daerah ini satu di zaman Belanda. Pemerintah Kolonial waktu itu mengangkat seorang kepala negeri untuk Matungkas-Laikit.

Jemaat Melayu Protestan di Matungkas merupakan cikal bakal wadah bergereja warga dua negeri tersebut. Hanya karena gereja berdiri di Matungkas sehingga orang lebih suka menyebutnya Jemaat Negeri Matungkas.

Bangunan gereja pertama berkonstruksi rumah panggung dengan tiang-tiang dan tangga yang terbuat dari kayu. Dua pintu di kiri dan kanan, dua jendela di antara dua pintunya. Gedung tersebut bentuknya waktu itu sangat sederhana tanpa menara.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, gereja ini digunakan sebagai sekolah pada Senin hingga Sabtu. Ada cerita unit di balik itu. Bagaimana anak-anak sekolah waktu itu suka datang lebih pagi. Alasannya, agar mereka bisa berburu koin di kolong gedung gereja yang jatuh 'lolos' dari celah lantai papan.

Koin-koin itu merupakan kolekte (persembahan) jemaat yang diberikan dalam ibadah Minggu. Anak-anak harus merayap karena kolong gereja cuma 0, 5 meter. Jemaat dari Matungkas dan Laikit bersekutu bersama di Minggu pagi.

Gereja Malak (Matungkas-Laikit), begitu orang menyebutnya dulu memiliki arsitektur unik.
Bangunan tersebut mempunyai peranan yang cukup penting artinya bagi perkembangan Agama Kristen di Minahasa Utara pada zaman Belanda. Gereja ini merupakan gereja Protestan pertama di Minahasa bagian utara. Selain jemaat di Desa Kaasar, Treman dan Tumaluntung.

Gedung GMIM Malak dibangun hampir sedekade. Dimulai 1928, selesainya 1930. Gereja ini ditahbiskan oleh Inlandsh Raeeraar Penulong W Kalesaran pada 9 Oktober 1930.

Adalah Jemmy Kambey, warga Matungkas yang sudah puluhan tahun menjadi pemelihara bangunan bersejarah tersebut. Selain gedungnya yang tua, gereja ini memiliki benda-benda bernilai sejarah tinggi.

Lonceng tua buatan Jerman bertahun 1937 adalah benda paling menarik. "Lonceng ini kalau dibunyikan akan terdengar sampai di desa-desa tetangga. Dentang lonceng sangat terdengar di tiga desa. Kalau pemeliharaan hanya sekadar pemeliharaan," kata dia.

Meski uzur, gereja ini masih berfungsi sebagaimana biasanya. Jemaat GMIM Immanuel Laikit dan Jemaat Elim Matungkas beribadah di sini. "Kalau Jemaat GMIM Sion Matungkas sudah mendirikan gedung gereja baru," ujar Pdt Petrus Pitoy, Ketua BPMJ Immanuel Laikit yang juga Ketua Wilayah GMIM Dimembe Matungkas Laikit (Dimalak), Kamis (1/9).

Menurut Julian Koloay Kotambunan, tokoh masyarakat Matungkas, gedung itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1990. "Awalnya masyarakat tidak tahu apa itu cagar budaya. Tapi mereka akhirnya paham setelah dijelaskan nilai sejarahnya. Saya minta agar gedung ini jangan sampai dibongkar," ujarnya.

Ia berharap Sinode GMIM dan pemerintah memberi perhatian pada gereja yang punya arti historis bagi GMIM tersebut. "Ada beberapa bagian yang harus direhabilitasi," tukas Julian.(ferdinand ranti)

Penulis: Ferdinand_Ranti
Editor: Rine Araro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved