Renungan Minggu
Renungan Minggu: Kehormatan Berdasar Perbuatan
Hasil penyelidikan, motif bunuh diri sang artis ialah ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak diidolakan lagi.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
Oleh
Pastor Chris Sumarandak MSC
Pastor Rekan Paroki Ratu Rosario Suci Tuminting
TRIBUNMANADO.CO.ID - SAUDARA-Saudari terkasih, pernah ada berita tentang seorang artis yang bunuh diri karena depresi. Hasil penyelidikan, motif bunuh diri sang artis ialah ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak diidolakan lagi seperti saat ia berada pada masa jaya.
Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa lagi bagi banyak orang.
Banyak orang juga di jaman sekarang ini sering kelihatan stres karena digantikan sebagai pemimpin atau penguasa. Kelihatan depresi saat ia tidak lagi terpilih untuk memegang tampuk pemerintahan. Kita juga sering mengalami hal itu karena kurang dihormati, direndahkan atau dicemooh.
Dalam bacaan Injil, Yesus berbicara tentang kehormatan: "Kalau engkau ke pesta perkawinan, janganlah engkau duduk di tempat kehormatan" (Luk 14:8).
Dalam kehidupan masyarakat, tempat kehormatan biasanya dikhususkan bagi pribadi-pribadi yang dianggap terhormat dalam masyarakat atau tempat yang dikhususkan bagi orang yang memiliki pangkat, jabatan, pekerjaan dan status sosial atau ekonomi yang tinggi. Banyak orang bermimpi untuk selalu bisa duduk di tempat kehormatan itu.
Dengan duduk di tempat kehormatan itu, orang bisa menunjukkan status sosial atau "siapa" dia di hadapan masyarakat.
Saudara-saudari terkasih, kehormatan sebenarnya tidak perlu dicari. Sikap seseoranglah yang akan menentukan apakah ia dihormati orang lain atau tidak. Yesus bersabda, "Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan" (Lukas 14:11). Kehormatan itu tidak perlu dikejar-kejar. Ia akan datang sebanding dengan tingkah laku kita dalam kehidupan bersama. Kehormatan adalah buah dari sikap baik. Itulah "Ada"nya manusia.
Yesus juga mengatakan hal lain soal usaha manusia untuk mendapatkan kehormatan lewat pengakuan orang yang lebih tinggi atau kaya.
"Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, jangalah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kamu keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya" (Lukas 14:12).
Menurut anggapan banyak orang, kemampuan untuk mengundang orang-orang kaya atau orang terkenal juga merupakan satu sarana yang ampuh menunjukkan "siap"nya saya di hadapan masyarakat. Tidaklah heran apabila banyak orang berusaha mati-matian untuk biasa bisa menjalin relasi dengan orang-orang kaya dan terkenal agar bisa menunjukkan "siapa"nya saya di hadapan masyarakat. Padalah, "siapa" selalu sifatnya fana atau sementara saja.
Saudari-saudari dalam Tuhan, marilah kita belajar dari sikap para tamu dan sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Dengan semangat kerendahan hati, kita perlu membebaskan diri kita dari belenggu nafsu yang merepotkan untuk menunjukkan "siapa" kita di hadapan orang lain. Nasehat yang baik dan bijaksana yang mengajarkan kerendahan hati kita dengar dari Kitab Putra Sirakh (Bacaan Pertama):
"Anakku, lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, maka engkau akan lebih disayangi daripada orang yang ramah-tamah. Makin besar engkau, patutlah makin kaurendahkan dirimu, supaya engkau mendapatkan karunia di hadapan Tuhan...." (Putra Sirakh 3:17-18, 20, 28-29).
Mari kita selalu memperhatikan sikap kita terhadap yang lain. Sikap yang baik pasti membuat orang lain menghormati kita. Sikap yang buruk pasti membuat orang tidak menghormati kita bahkan mungkin akan merendahkan kita.
Kehormatan dengan sendirinya akan kita peroleh lewat semakin sering kita berbuat dan bersikap baik kepada orang lain dengan tulus dan ikhlas.
Dengan demikian kita tidak perlu merebut tempat di depan, melainkan kita akan dihormati dengan pantas sesuai perbuatan kita. Marilah kita nikmati sukacita sejati dalam hidup ini karena Allah mencinta kita bukan karena "Siapa" kita melainkan karena "Ada" kita semata. Nikmatilah "Ada" kita bersama Allah. Amin.