Semarak Ritual Mandi Minyak Panas di Klenteng Kwan Kong Manado
Pandangan mata ratusan umat Tridharma Kong tertuju pada sebuah tungku yang berada di halaman Kelenteng Kwan Kong, Rabu (27/7).
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pandangan mata ratusan umat Tridharma Kong tertuju pada sebuah tungku yang berada di halaman Kelenteng Kwan Kong, Rabu (27/7).
Di atas tungku, tampak wajan raksasa berisi minyak kelapa. Api yang membara membuat minyak berbuih. Sesaat kemudian, terdengar bunyi tambur dari dalam Kelenteng.
Perhatian pun pindah pada sosok Tangsin ( Duta Allah) yang sedang berjalan dari arah Kelenteng menuju meja sembahyang di pekarangan. Di sana, Wong Kim Siam, nama sang Tangsin yang telah dikuasai oleh Sin Beng (roh suci) memegang sebuah pedang dan mengayunkannya ke kiri dan kanan.
Pedang itu kemudian dipakai untuk mengiris punggung dan lidahnya. Setelah melakukan beberapa ritual, sang Duta Allah menuju ke arah tungku. Di sini, ia julurkan jari telunjuk dan tengah ke atas permukaan air. Kedua jari digoyangnya beberapa kali, sementara bibirnya mengucapkan doa.
Setelah itu, ia tepukkan kedua tangannya ke air. Air pun tersibak, bersama itu ratusan umat yang menunggu sejak tadi langsung menyerbu tungku tersebut. Mereka yang terdiri dari pria dan wanita berbagai usia mencelupkan tangannya ke air lalu mengoleskan tangan itu ke bagian dada, muka, lengan hingga kaki.
Umat Tridharma Klenteng Kwan Kong melaksanakan ritual "Masak Minyak Obat" untuk memperingati kelahiran (shejit) yang suci Kwan Seng Ta Tie Kwan Kong di Klenteng Kwan Kong Manado. Acara setahun sekali pada hari kelahiran Kwan Kong itu, bukan hanya diikuti umat Tridharma di Kelenteng itu saja tapi oleh umat dari Kelentang lainnya.
Minyak kelapa yang digunakan dalam prosesi, mulai dibakar sejak pukul 01.00 Wita menggunakan kayu bakar dan tempurung. Siraman minyak tanah membuat api terus menyala. Jika yang dibakar termakan api, maka segera diganti dengan kayu bakar dan tempurung yang baru.
Minyak kelapa yang terus berbuih sepanjang waktu itu telah bercampur dengan 20 ramuan alami Tiongkok berupa akar-akaran dan dedaunan. Dibakar selama puluhan jam, minyak itu menjadi sangat panas. Namun herannya, ketika diberkati Tangsin, minyak itu berkurang panasnya. "Menjadi hangat saja," tuturnya.
Prosesi itu berlangsung selama setengah jam lebih. Waktu akan berhenti, Tangsin mendekati tungku dan berdoa. Setelah itu, umat tidak dapat lagi mengambil minyak itu. Tali pun langsung dibentangkan di sekeliling tungku.Oleh umat, minyak itu dioleskan ke bagian tubuh yang sakit. Bila percaya maka penyakit apapun bisa sembuh. Bahkan khasiatnya tidak hanya berlaku bagi umat Tridharma saja. "Bila percaya dapat sembuh," tuturnya.
Ko Hendrik, salah seorang umat Tridharma menyatakan bahwa obat itu memang berhasiat. Selain unsur supranatural, itu juga dimungkinkan oleh kandungan obat yang kaya dari minyak itu. "Bisa saja sembuh," katanya. Ronald, warga Manado punya pengalaman unik saat mencelupkan tangannya di minyak itu. Setahun lalu, ia alami bengkak di tangan kanan. "Waktu itu ada bengkak di tangan saya," tuturnya.
Selanjutnya, usai memberkati ramuan obat itu, Tangsin berbalik arah menuju sebuah tempat duduk di samping kiri altar. Di situ, ia melayani umat Tridharma yang datang. Tangan kanannya memegang sebuah kuas, kuas itu kemudian dicoloknya ke dalam mangkok berisi gincu. Kepada setiap warga yang datang, ia goreskan sebuah titik di beberapa bagian tubuh seperti telapak tangan dan dahi.(tribun manado/andreas)