Breaking News:

Semboyan Nyiur Melambai Terancam Tinggal Kenangan

Masih minimnya peremajaan tanaman kelapa oleh pemerintah menyebabkan semboyan Sulawesi Utara (Sulut) nyiur melambai terancam tinggal kenangan.

Tribun Manado
Ilustrasi 

Laporan wartawan Tribun Manado, Fionalois Watania

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Masih minimnya peremajaan tanaman kelapa oleh pemerintah menyebabkan semboyan Sulawesi Utara (Sulut) nyiur melambai terancam tinggal kenangan hal ini diakui langsung oleh Kepala Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara (Apeksu) Yulian Umpel.

"Peremajaan yang dilakukan pemerintah saat ini masih minim, bahkan terkadang tidak tepat sasaran. Karena peremajaan yang dilakukan biasanya hanya memberikan bibit," katanya kepada Tribun Manado belum lama ini.

Menurutnya yang dibutuhkan para petani sebenarnya bukanlah bibit karena bibit bisa dibuat sendiri oleh petani.

Namun yang cukup memberatkan para petani yaitu biaya penanaman dan pemeliharaan karena selain cukup besar waktu yang dibutuhkan juga selama bertahun-tahun.

Waktu yang dibutuhkan mulai dari penanaman hingga perawatan sekurang-kurangnya tiga hingga empat tahun.

Akibatnya cukup banyak para petani yang beralih profesi karena tidak sanggup menanggung biaya pemeliharaan.

"Upaya peremaajan dan penanaman kembali susah terjadi karena kehabisan dana. Hal ini menyebabkan sebagian petani terpaksa membiarkan pohon kelapa yang ada atau menjual batangnya untuk dijadikan berbagai bahan meubel tanpa adanya peremajaan yang signifikan," katanya.

Berdasarkan data yang dia ungkapkan sejak tahun 1995, jumlah tanaman kelapa di Sulawesi Utara (Sulut) sekitar 50%.

Lanjut pria yang biasa disapa Yulian ini beberapa faktor penyebab lain susutnya tanaman kelapa adalah bencana alam, hama penyakit, gejolak harga kopra yang sudah tidak bisa menutupi biaya produksi.

Belum lagi adanya pengalihan fungsi lahan kelapa menjadi bangunan maupun tanaman lainnya.

"Jangan sampai sebutan provinsi Nyiur Melambai hanya tinggal kenangan semata," tuturnya.

Dia berharap agar pemerintah tidak hanya menyediakan bibit namun juga menyediakan anggaran untuk peremajaan dan pemeliharaan tanaman kelapa.

Dengan demikian para petani tidak memilih untuk beralih profesi. Dia menambahkan agar pihak bank terutama bank pemerintah dapat menyediakan kredit bagi petani kelapa. Karena selama ini hanya petani sawit yang bisa mendapatkan kredit. 

Penulis:
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved