Khouni Curhat di Hadapan Dewan Pers
Media pers tumbuh subur pasca reformasi. Saat ini, ada ratusan media cetak, elektronik dan online.
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Media pers tumbuh subur pasca reformasi. Saat ini, ada ratusan media cetak, elektronik dan online. Di luar itu ada puluhan ribu media tidak jelas. Paling banyak media online.
Demikian dikatakan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo alias Stenly, saat menjadi pembicara dalam seminar Literasi Media Membedakan Media Profesional dengan Media Abal-abal di gedung BPU Kantor walikota Bitung, Senin (27/6).
Selain Stenly hadir sebagai narasumber mantan Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang. Anggota Dewan Pers ini membawakan materi tentang "Lonsep Pers Profesional Menurut KEJ dan UU Pers". Kemudian ada Imam Wahyudi membawakan materi tentang "Ciri-ciri Wartawan Abal-abal dan Menyikapi Pers yang Tidak Profesional".
Leo Batubara menyampaikan materi "Prosedur Pengaduan, Hak Jawab dan Penanganan Hukum Sengketa Pers".
Dipandu moderator Amanda Komaling dari Metro TV dan dihadiri Wali Kota Bitung Max Lomban dan Wakil Wali Kota Maurits Mantiri keberadaan wartawan tak jelas menjadi sorotan tajam Dewan Pers. "Di Bitung saya mendapat laporan banyak media yang mempersulit," katanya.
Dijelaskan dia, ada 182 media di zaman Presiden Soeharto. Tahun 1999 media berkembang jadi 1.300 hingga sekarang jumlah media yang terdata di Dewan Pers ada ratusan stasiun TV, cetak dan online.
"Diluar itu ada puluhan ribu media tidak jelas, paling banyak media online," tegasnya. Dia menilai banyak media online yang seakan menipu masyarakat. Sudah menjadi fenomena umum hampir di setiap kota ada media abal-abal.
Pada kesempatan itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung, Khouni Lomban-Rawung membagi pengalaman pemberitaan tidak berimbang.
"Jadi saya sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bitung diberitakan dengan judul 'Darah Dikomersialkan PMI Kota Bitung' tanpa ada konfirmasi resmi," kata istri Wali Kota Bitung. Khouni melakukan penelusuran terhadap wartawan media online yang menulis berita tanpa konfirmasi. Ternyata sang wartawan sengaja melakukannya. "Dia (wartawan) bilang kepada saya berita itu sebagai bentuk perkenalan sehingga membuat berita tanpa klarifikasi maupun konfirmasi. Dan fenomena berita 'ba pukul' diwartakan dulu dan klarisifikasinya menyusul belakangan," tukasnya. *