Efek Brexit, BI Sulut 'Jaga-jaga', Nilai Tukar Rupiah Stabil

Bank Indonesia (BI) terus melakukan pemantauan terhadap dampak dari keluarnya Inggris dari Uni Eriopa, akhir pekan lalu.

Efek Brexit, BI Sulut 'Jaga-jaga', Nilai Tukar Rupiah Stabil
Telegraph/I-IMAGES/ANDREW PARSONS
David Cameron menyampaikan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri Inggris, pasca Inggris menyatakan keluar dari Uni Eropa(Telegraph/I-IMAGES/ANDREW PARSONS) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Bank Indonesia (BI) terus melakukan pemantauan terhadap dampak dari keluarnya Inggris dari Uni Eriopa, akhir pekan lalu.

Sikap 'jaga-jaga' ini dilakukan agar perekonomian Indonesia tak terpengaruh dampak fenomena Brexit (British Exit) tersebut.

"Kami terus melakukan pemantauan terhadap dampak referendum Brexit," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Peter Jacobs, Minggu (25/6/2016).

Menurut dia, Indonesia saat ini memiliki ketahanan ekonomi yang baik. Stabilitas makro ekonomi tetap terjaga yang tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relatif stabil.

Ketahanan ekonomi ini diyakini mampu menjaga perekonomian Indonesia terhadap dampak hasil referendum di Inggris.

BI memandang bahwa Brexit berdampak relatif terbatas pada perekonomian domestik. Baik di pasar keuangan maupun kegiatan perdagangan dan investasi.

Di pasar keuangan domestik, di tengah terjadinya pelemahan di pasar uang Eropa dan Asia, nilai tukar rupiah relatif stabil.

Sementara itu, pasar saham Indonesia juga mengalami koreksi relatif terbatas, terutama apabila dibandingkan dengan negara-negara seperti India, Thailand dan Korea Selatan.

Selain di pasar keuangan, dalam jangka menengah, dampak Brexit melalui jalur perdagangan juga diyakini relatif terbatas.

Pangsa ekspor Indonesia ke Inggris hanya sekitar 1,0 persen dari total ekspor.

Meskipun, dampak lanjutan dari terganggunya hubungan perdagangan UK-Eropa perlu dicermati mengingat pangsa ekspor Indonesia ke Eropa (di luar Inggris) mencapai 11,4 persen.

Dalam lima tahun terakhir, pangsa penanaman modal asing langsung dari Inggris terhadap total penanaman modal asing di Indonesia tercatat di bawah 10 persen.

"Ke depan, BI akan terus mencermati potensi risiko yang muncul dari hasil referendum di Inggris," ungkap Jacobs. (Tribun Manado/Herviansyah)

Penulis: Herviansyah
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved