Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

RS Apung Waluya II, Beri Layanan Kesehatan Gratis di Pelosok Nusantara

RSA ini direncanakan memberikan pelayanan kesehatan jangka panjang kepada penduduk di beberapa daerah kepulauan terpencil di Indonesia.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Fernando_Lumowa
Istimewa
Dr Lie Dharmawan bersama pasien di Papua. Dr Lie dikenal dengan RS Apung Lie Dharmawan yang menjadi pionir pelayanan kesehatan rumah sakit apung yang melayani masyarakat kepulauan, pelosok, perbatasan dan daerah terpencil di Nusantara 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Setelah sukses meluncurkan dua Rumah Sakit Apung (RSA), doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) bersama dengan beberapa mitra strategis berencana meluncurkan RSA ketiga yang akan dinamai Nusa Waluya II.

RSA ini direncanakan memberikan pelayanan kesehatan jangka panjang kepada penduduk di beberapa daerah kepulauan terpencil di Indonesia.

Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau memerlukan upaya ekstra pemerataan sarana dan prasarana medis. Rasio dokter dan pasien di wilayah Papua dan Maluku adalah 1 dokter untuk sekitar 4.000 pasien.

Jumlah ini sangat jauh berbeda dengan kondisi di Ibu Kota yang memiliki 1 dokter untuk sekitar 350 pasien. Selain itu, masih banyak persalinan di Papua dan Maluku yang belum dibantu tenaga kesehatan.

Pada 2015, doctorSHARE menandatangani nota kesepahaman dengan pemerintah Provinsi Maluku dengan tujuan memperbaiki profil kesehatan di provinsi tersebut. Salah satu upaya doctorSHARE dalam mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan menempatkan RSA Nusa Waluya II di salah satu gugus kepulauan yang profil kesehatannya masih terbilang rendah.

Nantinya RSA Nusa Waluya II diharapkan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat, dan dapat berfungsi sebagai fasilitas rujukan terlebih untuk kasus-kasus yang belum dapat ditangani oleh fasilitas kesehatan setempat.

Tim doctorSHARE di RSA Nusa Waluya II juga berencana memberikan pendampingan kesehatan bagi tenaga medis setempat, bidan, perawat, dan sebagainya. Sekaligus memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat setempat," ujar dr Debby Kurniawati Adi Saputra, Koordinator RSA Nusa Waluya II dalam press release ke Tribun Manado, Selasa (14/6).

aasa

RS Apung dr Lie Dharmawan

Menurut dr Debby, biaya untuk membangun dan mengoperasikan RSA Nusa Waluya II terbilang cukup besar tapi kepedulian publik Indonesia memungkinkan dimulainya proyek besar ini.

Sumbangan terbesar datang dari PT Multi Agung Sarana Ananda (MASA), sebuah perusahaan maritim lokal, yang menyumbangkan sebuah kapal tongkang berukuran 45 x 20m.

Julia Windasari, Direktur CSR PT MASA mengatakan,dengan pengalaman dan keahlian PT MASA di dunia perkapalan selama ini, pihaknya turut serta mendukung proyek perombakan kapal bantuan tersebut agar dapat berfungsi sebagai rumah sakit apung.

Diperkirakan total kebutuhan pendanaan untuk membiayai renovasi dan operasional kapal selama 6 bulan perdana mencapai Rp 15,6 miliar. "Sejauh ini total pendanaan yang sudah terkumpul, baik dalam bentuk sumbangan dana maupun barang seperti obat-obatan dan peralatan medis, sudah sekitar 21 persen dari kebutuhan," menurut dr. Debby.

doktorSHARE juga membuka kesempatan bagi publik untuk berpartisipasi dalam pembangunan RSA Nusa Waluya II. Sumbangan dapat diberikan kepada doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) melalui nomor rekening 198.550.7777 (BCA).

"Mohon tambahkan 3 rupiah dari nilai sumbangan Anda agar Tim doctorSHARE dapat mengetahui bahwa dana yang masuk adalah untuk proyek RSA Nusa Waluya II, " kata Debby.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved