Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Frets Datang dari Serui untuk Urus Ijazah di Unima

Masalah pergantian kepemimpinan Universitas Negeri Manado (UNIMA) berdampak pada mahasiswa jarak jauh.

Penulis: Andrew_Pattymahu | Editor: Andrew_Pattymahu

Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID,TONDANO- Masalah pergantian kepemimpinan Universitas Negeri Manado (UNIMA) berdampak pada mahasiswa jarak jauh. 

“Permasalaha yang terjadi di UNIMA saat ini bukan urusan kita, kita di Papua tidak tahu persoalan di UNIMA, kita cuma datang dari Serui untuk urus ijazah S1, cuma karena ada persoalan di UNIMA ini menghambat, saya sudah 14 hari, tinggal di Tondano tunggu ijazah tidak cetak,” jelas Frets Mokodompis sarjana S1 UNIMA.

Namun menurutnya, kalau menyangkut pergantian Rektor atau ada masalah sekarang mereka tidak tahu menahu.”Seperti saya baca di koran bahwa Dirjen dari Dikti datang untuk jadi plt itu kami tidak tahu, kami tidak ada urusan dengan itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama menjadi mahasiswa UNIMA kelas jauh tatap muka terus dilaksanakan.”Kita juga tatap muka, 4 tahun itu dosen dari UNIMA itu pergi ke sana seluruh daerah itu, kami tidak kumpul uang bayar dosen, itu keliru kalau ada berita seperti itu,” tuturnya.

Menurutnya masalah dana untuk bayar SPP itu sudah diaggarkan lewat DPA masing-masing daerah dan langsung ke rekening UNIMA.”Tidak ada untuk bayar dosen-dosen sebab itu kan sudah ada dalam MoU masing-masing DPA, tidak ada namanya kami berikan uang, mereka dosen-dosen di UNIMA bantu orang papua supaya S1 itu kami sangat terbantukan, karena guru di sana itu rata-rata SPG sedangkan aturan sertifikasi menuntut supaya guru-guru di sana itu harus S1, mulai Desember 2015 kemarin itu adalah batas,” jelasnya. Jadi menurutnya, tidak ada sama sekali unsur pungutan liar atau segala macam itu tidak ada.

Sementara itu, mahasiswa kelas jauh UNIMA di Papua Andi mengatakan bahwa UNIMA sangat berjada kepada masyarakat Papua.”Kalau tidak adaUNIMA, se kabupaten Paniai ada 79 sekolah itu sudah tutup, sebab guru yang ada di dalam atau yang sedang mengajar itu tamatan SPS dan D2,” jelasnya.

Sehingga mereka mengaku bersyukur karena ada program berkualifikasi S1 UNIMA yang bisa membantu mereka di sana.”Akhirnya sekolah-sekolah di sana lolos. Karena adanya program kualifikasi S1 bukan program Paniai bukan program UNIMA tapi program pusat negara, jadi jangan halangi kami orang Papua, nanti kami akan langsung ke menteri kami ajak langsung guru-guru menghadap ke Menteri dan akan bilang mau bantu orang Papua atau tidak, SDMnya mau disiapkan atau tidak khusus untuk orang Papua,” jelas dia.

Ia akan mempertanyakan haltersebut.”Saya pikir pihak UNIMA itu luar biasa membantu kami, apalagi di Kabupaten Nabire 8 jam naik mobil tidak ada yang bersedia, tapi UNIMA bersedia,, mereka berani sebab kalau tidak ada UNIMA semua guru di Paniai pensiun dini,” tuturnya. (amg)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved