"Dilly Ding, Dilly Dong." Mantra si Tuan Baik Ranieri
"Dari awal, jika ada sesuatu yang salah, saya berkata: 'Dilly ding, dilly dong, bangun, bangunlah!'"
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID - "Dilly ding, dilly dong...," ucap Claudio Ranieri kegirangan saat Leicester City memastikan masuk zona Liga Champions Eropa. "Oh, ini fantastis. Fantastis. Hebat," kata dia kemudian.
Namun kini, The Fox bukan hanya masuk zona Liga Champions, tapi juga memastikan menjadi kampium di Liga Inggris. Dua pertandingan tersisa sudah tak menentukan lagi.
Capaian Leicester City memang fenomenal. Capaian terbaik sebelumnya adalah posisi kedua Liga Utama Inggris. Itu pun terjadi 87 tahun yang lalu, di musim 1928/29.
Banyak yang meramalkan, Leicester City harus berjuang di zona degradasi musim ini, namun kenyataannya The Fox tak pernah terlempar dari posisi enam besar.
Para pemain tentu saja menjadi aktor kesuksesan tim ini. Namun tak ada yang meragukan, kedigjayaan Jamie Vardy dkk adalah buah pikiran sang pelatih, Claudio Ranieri.
Setelah hampir tiga dekade, orang Italia ini mencapai puncak. Dia yang diejek dengan julukan nearly man atau si 'manusia nyaris'. Ia pernah dipecat di Chelsea, Juventus, AS Roma, Inter Milan, dan AS Monaco, saat tim tersebut berada di peringkat kedua.
Sebelum itu, dia juga dijuluki Tinkerman. Kata ini bahkan masuk lema dalam kamus Collins. Julukan ini pun bukan pujian, tapi lebih kepada sindiran bagi pelatih yang suka gonta-ganti formasi.

Dia pun mendapat julukan Mr. Nice Man. Ya, Ranieri merupakan pria yang hangat. Ia menjabat tangan para pemainnya sebelum latihan atau sesekali mentraktir pizza ketika gawang mereka tak kebobolan.
"Saya mengatakan kepada mereka, bila tak kebobolan, saya akan membelikan pizza. Saya kira mereka menunggu juga buat hot dog," kata Ranieri berkelakar.
Para pemain Leicester City pun menaruh hormat kepada pelatih mereka. Kasper Schmeichel mengatakan, Ranieri tak seperti kebanyakan manajer yang membawa staf-staf dengan orang- orangnya. Dia juga tak merombak tim.
"Minggu pertama ia memperkenalkan diri. Beberapa minggu kemudian dia tak mengatakan apa pun dan hanya melihat bagaimana kami bermain. Dia menyadari telah memiliki skuad bagus, bermain bagus, dan berlatih keras," kata putra kiper legendaris Peter Schmeichel ini.
Bagi Ranieri, sesuatu janga terlalu dipersulit. Target musim 2015/16 hanya mendapat 40 poin. Angka aman agar tak masuk dalam zona degradasi.
Nyatanya, si Tuan Baik ini berhasil membuat timnya menjadi juara dengan modal 53,5 juta poundsterling. Lalu apa target di musim depan? Ia menargetkan Leicester City berada di posisi 10 saja di Liga Inggris.
Ya, tak usah dipersulit. Saat ditantang oleh seorang wartawan untuk menyanyikan chant, ia mengaku tak bisa menyanyi. Nyanyian yang ia ketahui hanyalah bunyi bel.
Lain waktu ia berkata, "Dari awal, jika ada sesuatu yang salah, saya berkata: 'Dilly ding, dilly dong, bangun, bangunlah!'" (telegraph/guardian/skysport)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/claudioa-ranieri_20160504_171742.jpg)