Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Defllasi Empat Bulan Berturut-Turut

Pada April 2016 Manado mengalami deflasi 0,87 persen. Dengan demikian berarti selama empat bulan berturut-turut Manado mengalami deflasi.

Penulis: | Editor:

Laporan Wartawan Tribun Manado Herviansyah

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Pada April 2016 Manado mengalami deflasi 0,87 persen. Dengan demikian berarti selama empat bulan berturut-turut Manado mengalami deflasi.

"Manado telah mengalami deflasi bulanan selama empat kali berturut-turut sejak Januari 2016," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Peter Jacobs, Senin (2/5/2016).

Jacobs menambahkan Fenomena ini juga tercatat sebagai kali pertama dalam satu dekade terakhir. Inflasi April2016 yang sebesar 0,87 persen juga tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi April 2016 yang sebesar 0,06 persen(mtm).

Terjadinya deflasi pada April 2016 dipengaruhi oleh koreksi harga pada kelompok volatile food dan administered prices ditengah terkendalinya inflasi kelompok inti. Selain itu, angka realisasi inflasi tersebut relatif sesuai dengan prakiraan BI sebelumnya dimana penurunan harga didorong oleh koreksi harga pada komoditas cabai rawit, beras, bensin dan angkutan dalam kota.

Mulai melimpahnya ketersediaan komoditas beras dan cabai seiring panen raya serta pengaruh kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi,cukup memberi pengaruh yang besar terhadap pergerakan inflasi Sulut dibulan laporan. Namun,lonjakan harga pada komoditas bawang merah menjadi faktor penahan terjadinya deflasi yang lebih dalam.

Bank Indonesia memandang positif terkendalinya harga pada periode laporan. Relatif stabilnya kondisi harga hingga April 2016 membuat level inflasi Sulut semakin mendekati level nasional dan mendukung tercapainya proyeksi inflasi Sulut 2016 yang sebesar 4,5+1 persen Pada bulan mendatang, tekanan inflasi Sulut diperkirakan masih relatif minimal.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan stok beras dan cabai yang masih terjaga dan mulai terkoreksinya harga bawang merah. Namun demikian, risiko peningkatan harga muncul dari komoditas ikan-ikanan dipengaruhi kondisi cuaca yang kurang mendukung aktifitas nelayan.

Kedepan, Bank Indonesia memandang upaya pengendalian inflasi perlu terus ditingkatkan terutama dengan fokus pada kelompok volatile food. "Sesuai dengan pembahasan pada rapat TPID Sulut pada 26 April 2016, upaya pengendalian harga juga akan difokuskan pada bulan-bulan tertentu yang secara historis selalu mengalami gejolak harga seperti Juli, Oktober dan Desember," tutur Jacobs.

Selainitu, dalam waktu dekat BI ju ga akan mendorong pertemuan TPID di seluruh Kab/Kota dalam rangka pembahasan hasil pemetaan inflasi yang telah dilakukan dimasing-masing kabupaten/kota. upaya lain yang akan dilakukan adalah optimalisasi penggunaan informasi harga pangan strategis dan koordinasi yang dilakukan secara intensif.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved