Batu Lisung Pusaka Bersejarah Kepunyaan Bukit Si Non Sayang
Di desa tersebut memiliki peninggalan sejarah berupa batu lisung yang terletak di Bukit Si Non Sayang, Kabupaten Minahasa Selatan.
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan wartawan Tribun Manado Fionalois Watania
TRIBUNMANADO.CO.ID,AMURANG - Indonesia memiliki keragaman budaya bahkan sejarah yang berbeda-beda. Masing-masing daerah memiliki peninggalan sejarah dengan kisah-kisah yang menarik untuk ditelusuri.
Satu diantara daerah yang ada di Sulawesi Utara (Sulut) yang memiliki keunikan tersendiri adalah Desa Ongkaw, Kecamatan Amurang.
Di desa tersebut memiliki peninggalan sejarah berupa batu lisung yang terletak di Bukit Si Non Sayang, Kabupaten Minahasa Selatan. Awal mula penemuan batu ini dipenuhi dengan misteri.
Karim Patabuga (73) adalah penemu batu yang memiliki tinggi sekitar dua meter lebih dan lebar sekitar satu meter. Disebut batu lisung, karena memang memiliki lubang dibagian tengah layaknya lisung pada umumnya. Hanya saja dari segi ukuran terbilang cukup besar dari biasanya.
Dikisahkannya, batu tersebut ditemukannya sekitar tahun 1981 saat dirinya berusia 40 tahun. "Sebelum mendapatkan batu tersebut saya selalu bermimpi dan mendapatkan petunjuk untuk menggali tanah setahun setelah saya tinggal berkebun di bukit Si Non Sayang," katanya.
Lanjut Karim dalam mimpi tersebut ada yang mengatakan kepadanya untuk menggali lubang kayu. Dia pun mencoba melihat lokasi tanah yang dimimpikannya. Namun dirinya sama sekali tidak menemukan lubang kayu atau apapun.
Puncaknya, ketika dia bermimpi lebih lama dari biasanya yakni selama setengah hari. Dia mendapat petunjuk dalam mimpi bahwa ada patung batu yang terkubur. Dia pun memutuskan untuk segera menggali. Ketika digali dia belum menemukan apapun.
Namun ketika hendak kembali menambung tanah, dia menemukan benda yang keras dan ternyata merupakan batu lisung.
Kini batu tersebut terletak di atas Bukit dekat dengan lokasi tempat tinggalnya. Dia menambahkan ada cerita menarik yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Dulunya pernah ada sekitar sembilan orang yang ingin membawa batu ini ke daerah desa yang ada dibawah bukit dengan niat memajang di gereja. Namun ke sembilan orang tersebut tidak mampu mengangkat batu. Anenhnya ketika digulingkan kebawah, bukan meluncur lurus, justru arah batu ini berputar seperti ingin berbalik ke posisi semula," jelasnya.
Hanya sekitar 100 meter batu ini digulingkan dari tempatnya, yang lebih mengherankan ketika Karim ingin mendorong batu keatas justru lebih mudah dan cepat dan hanya membutuhkan dua tenaga manusia saja. 35 tahun sudah batu tersebut berada di bukit Si Non Sayang.
Bagi Karim batu itu memang kepunyaan Bukit Si Non Sayang dan tidak bisa dipindahkan kemana-mana.
Diwawancara terpisah, Mohamad Dumbela, Hukum Tua Ongkaw 3 menambahkan kisah menarik berdasarkan kisah rakyat yang pernah di dengarnya sejak dahulu dari para orangtua. Sesuai dengan namanya, Si Non Sayang yang berarti Si Nona Sayang, bukit tersebut ditinggali oleh seorang putri.
"Jika ingin melihat putri Si Non Sayang, maka anda harus mengisi penuh batu lisung dengan air dan buat gayung dari Daun Woka, maka pada malam hari puteri akan mandi disitu," ujarnya.
Itulah sebabnya bukit tersebut diberikan nama Bukit Si Non Sayang, yang konon ditinggali oleh seorang puteri. Dumbela berharap agar peninggalan-peninggalan sejarah seperti ini dapat dilestarikan dan diperhatikan oleh pemerintah karena dapat menjadi aset sejarah yang berharga dan bisa diperkenalkan ke anak-cucunya suatu saat nanti.